Wonosobo Hebat
Mudik 2026 Diprediksi Turun 1,75 Persen, Pergerakan ke Wonosobo Diproyeksikan 107.549 Orang
TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Pergerakan mudik Lebaran 2026 diproyeksikan mengalami penurunan tipis.
Meski begitu, Jawa Tengah masih menjadi magnet utama pemudik secara nasional.
Kepala Disperkimhub Wonosobo, Agus Susanto, menyampaikan penurunan tersebut juga berdampak di daerah. Tren mudik mengacu pada rilis resmi pemerintah pusat.
“Secara umum, untuk tahun 2026 ini, prediksi dari Badan Kebijakan Transportasi (BKT), dulu namanya Litbanghub, itu merilis memang tren mudik angkutan lebaran tahun 2026 itu turun 1,75 persen,” ujar Agus, Rabu (4/3/2026).
Baca juga: Mudik Gratis 2026 di Wonosobo Naik Signifikan: 9 Bus Disiapkan dan Dimungkinkan Bertambah
Baca juga: Pemkab Kudus Siapkan 14 Bus Untuk Mudik dan Balik Gratis
Walau turun secara nasional, Jawa Tengah tetap menjadi daerah tujuan mudik terbesar saat libur Idulfitri.
“Jadi Jawa Tengah itu paling besar 26,90 persen atau 38,71 juta yang mau masuk ke Jawa Tengah,” kata Agus.
Angka 38,71 juta itu menjadi indikator penting dalam menghitung potensi lonjakan kendaraan di daerah-daerah penyangga, termasuk Wonosobo.
Untuk level kabupaten, Pemkab masih menggunakan pendekatan data tahun sebelumnya.
“Tahun 2025 kemarin itu ada 111.269 perjalanan yang ke arah Wonosobo,” jelas Agus.
Karena tren nasional turun 1,75 persen, maka estimasi pergerakan tahun 2026 di Wonosobo diprediksi menjadi 107.549 orang.
Periode mudik sendiri diperkirakan berlangsung mulai 13-30 Maret 2026.
Untuk memantau arus kendaraan, Pemkab Wonosobo mengandalkan Traffic Monitoring Center (TMC).
Melalui TMC tersebut, pergerakan kendaraan bisa dipantau secara real time setiap hari.
“Ya real time kita bisa tahu pergerakan kendaraan orang setiap harinya,” ucapnya.
Data resmi akan dirilis setiap pukul 18.00 WIB karena survei dilakukan sejak pukul 06.00 pagi.
Berdasarkan evaluasi Lebaran 2025, kondisi lalu lintas di Wonosobo masih dalam kategori stabil.
“Level of service-nya itu adalah 0,66. 0,66 itu artinya ya masih stabil dan kecepatannya rata-rata 40 sampai 50 kilometer per jam,” terang Agus.
Dengan sistem tersebut, Disperkimhub Wonosobo dapat menghitung volume kendaraan, tingkat kepadatan, hingga estimasi kecepatan rata-rata di titik tertentu.
Agus menegaskan bahwa seluruh data yang digunakan tersebut bersifat apple to apple karena memakai pembanding masa Lebaran 2025, bukan periode Natal dan Tahun Baru yang memiliki pola berbeda. (ima)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/20260304_MUDIK-2026-Kepala-Disperkimhub-Wonosobo.jpg)