Wonosobo Hebat

Kadinkes Wonosobo Dorong PHBS dan Sanitasi Layak di Lingkungan Pondok Pesantren 

TRIBUN JATENG/Imah Masitoh
SANITASI - Suasana cek kesehatan gratis bagi para santri di Pondok Pesantren Rohmatul Ummat, Wonobungkah, Jumat (22/5/2026). Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo, Jaelan, menyampaikan pentingnya sanitasi pesantren dan upaya percepatan penurunan stunting di Pondok Pesantren. 

TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Wonosobo menaruh perhatian serius terhadap kondisi sanitasi di lingkungan pondok pesantren sebagai bagian dari strategi pencegahan penyakit dan percepatan penurunan stunting.

Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo, Jaelan, menyampaikan, lingkungan pesantren membutuhkan perhatian khusus agar aktivitas belajar para santri berlangsung dalam kondisi sehat dan aman.

"Pesantren adalah tempat mencetak generasi unggul, sehingga status kesehatannya harus dijaga secara holistik. 

Baca juga: Jelang Iduladha, Dinkes Wonosobo Ingatkan Warga Cermat Pilih Hewan Kurban dan Jaga Pola Konsumsi

Kami dari Dinas Kesehatan memastikan bahwa akses air bersih, pengelolaan limbah domestik, dan fasilitas MCK di sini memenuhi standar kesehatan lingkungan (kesling). 

Hal ini guna mencegah penularan penyakit berbasis lingkungan seperti penyakit kulit dan diare," ujarnya saat berkunjung di Pondok Pesantren Rohmatul Ummat, Wonobungkah, Jumat (22/5/2026).

Dalam kunjungannya, Jaelan meninjau langsung sarana air bersih, fasilitas mandi cuci kakus (MCK), hingga pengelolaan limbah domestik di area pondok pesantren yang dihuni banyak santri.

Selain memastikan standar sanitasi, Dinkes Wonosobo juga berencana membentuk kader santri husada untuk mendorong penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) secara mandiri di lingkungan pesantren. 

Di sisi lain, upaya penanganan stunting tetap menjadi agenda prioritas Dinkes Wonosobo sepanjang 2026. 

Pemantauan tumbuh kembang anak berbasis data posyandu terus diperkuat agar intervensi gizi lebih tepat sasaran.

Program pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal serta edukasi kepada ibu hamil juga terus digencarkan demi menekan angka stunting di wilayah tersebut.

"Penanganan stunting ini tidak bisa dikerjakan sektoral dari hilir saja saat anak sudah lahir. 

Kita intervensi sejak masa remaja putri, calon pengantin, hingga pemenuhan gizi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Dengan integrasi PHBS di rumah tangga dan sanitasi yang baik seperti di pesantren ini, kita memotong rantai penyebab stunting dari akarnya," jelasnya.

Baca juga: Anemia dan Risiko Talasemia pada Remaja Tinggi, Dinkes Wonosobo Intensifkan CKG di Sekolah & Ponpes

Jaelan turut mengapresiasi dukungan pengurus pondok pesantren dan tokoh masyarakat dalam mendukung berbagai program kesehatan pemerintah daerah.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi faktor penting untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang inklusif dan merata bagi seluruh masyarakat Wonosobo.

Dinkes Wonosobo berkomitmen memperluas layanan promotif dan preventif agar masyarakat memperoleh akses kesehatan yang aman, berkualitas, dan berkelanjutan. (ima)