Liputan Khusus

Hadi Surento Bersyukur Masih Jadi PNS

Mantan bintang sepak bola asal Rembang, Hadi Surento, mengaku bersyukur masih menjadi PNS di tengah ketidakjelasan masa depan sepakbola tanah air

Hadi Surento Bersyukur Masih Jadi PNS
store.tempo.co
Hadi Surento saat masih menjadi pemain

TRIBUNJATENG.COM, REMBANG - Mantan bintang sepak bola asal Rembang, Hadi Surento, mengaku bersyukur masih menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di tengah ketidakjelasan masa depan sepakbola tanah air. Ia pun berpesan kepada para pemain muda untuk rajin menabung dan berinvestasi ketika masih bisa menghasilkan uang dari sepakbola.

Mantan pemain bintang PSIR Rembang dan PSIS Semarang yang dulu berposisi sebagai penyerang itu, kini menjadi seorang PNS di Dinas Pendidikan Rembang. "Waktu itu zamannya Bupati Moch Salim. Saya yakin saya diterima PNS karena prestasi di sepakbola. Pemkab mengapresiasi saya dan mengangkat menjadi PNS. Aturan dulu kan tidak seketat sekarang," ujarnya, pekan lalu.
Seperti diberitakan Tribun Jateng, sejumlah pemain dan mantan pemain mencemaskan masa depan pemain sepak bola tanah air, setelah tidak bermain sepakbola. Apalagi PSSI kini menghentikan kompetisi menyusul konflik dengan Kementerian Olahraga (Kemenpora). “Harusnya pemain yang berprestasi mendapat penghargaan dari pemerintah atau pemkab masing-masing sehingga masa depannya terjamin,” kata Surento.

Hadi Surento ikut mengantarkan PSIS menjadi juara Liga Indonesia tahun 1998/1999 bersama-sama Tugiyo, Nova Arianto, Supriono, I Komang Putra (kiper) dan lainnya. Selain PSIS dan PSIR, Surento tercatat pernah bermain untuk beberapa klub besar seperti Barito Putra, Mitra Kukar, Petro Kimia Gresik, dan Arema Malang.

Sementara itu, sudah empat tahun Muhammad Eksan lepas dari dunia sepak bola. Aktivitasnya kini selain menjadi karyawan PDAM Kabupaten Sleman, mantan striker PSS Sleman ini meneruskan bisnis keluarga bidang kuliner ayam goreng "Bu Hartin".

Bisnis kuliner ayam goreng Bu Hartin memiliki empat outlet. Tiga outlet di Wates, sedangkan satu outlet di daerah Sleman. Eksan menyadari bahwa ia tak selamanya menggantungkan hidup di sepak bola. Investasi jangka panjang sudah dipersiapkannya sejak menjadi pemain. "Gaji saya dulu tidak sebesar pemain seperti sekarang ini. Paling tinggi Rp 165 juta per musim. Gaji sebesar itu sudah cukup bagi saya. Untuk pendidikan anak dan kebutuhan keluarga. Sebagian saya alihkan ke investasi rumah dan tanah. Saya juga mengelola bisnis keluarga dibantu kakak saya. Saya sudah pikirkan sejak jadi pemain," ujarnya ketika dihubungi Tribun Jateng, pekan lalu.

Eksan memulai karir amatirnya bersama klub Hisbul Wathan Wates. Selanjutnya dilirik PSS Sleman sejak 1997 hingga 2005. Eksan dianggap legenda PSS Sleman lantaran berhasil mengantarkan PSS ke kasta tertinggi Liga Indonesia pada waktu itu. Pemain yang kala itu memakai kostum nomor 11 selanjutnya berlabuh ke Persiba Bantul selama satu musim 2006-2007.

Selanjutnya Eksan berganti kostum PSIM Yogyakarta pada 2008-2009, dan kembali ke PSS Sleman hingga memutuskan berhenti bermain bola pada 2011 lalu. "Saya pilih pensiun dari bola karena faktor usia. Saya sudah 37 tahun," ujarnya.

Eksan bercerita nasib lain dialami sejumlah rekan setimnya. Teman satu angkatan kini hidupnya tidak seberuntung dia yang tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan setelah berhenti bermain sepak bola. "Saya bersyukur dulu saat bermain sudah mempersiapkan investasi setelah pensiun," ujarnya.

Pemain sepak bola, kata Eksan, bisa hidup dari sepak bola di Indonesia asalkan pemain tersebut bisa mengatur keuangan. "Saya bilang pemain bola bisa keceh duit saat dia jadi pemain. Tapi tetap harus bisa mengatur uangnya. Saat jadi pemain saya sarankan untuk tidak menghambur-hamburkan uang. Perlu dipikirkan investasi. Pemain tidak tahu sampai kapan dia akan bermain. Usia dan cedera bisa menentukan nasib pemain itu sendiri," ujarnya.

Terkait konflik PSSI, Eksan berharap konflik segera menemui titik temu. Pasalnya, sepakbola sudah menjadi gantungan hidup bagi pemain. "Kalau konflik ini ngga segera berakhir yang akan rugi pemain karena mereka menggantungkan hidup dari penghasilan main bola. Harusnya secara bijak diputuskan untuk menemui kesepakatan," ujarnya.(tim)

Editor: rustam aji
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved