Amel Bocah Lumpuh Korban Bully Teman SD Mulai Latihan Jalan, Lihat Perkembangannya
Amel Bocah Lumpuh Korban Bully Teman SD Mulai Latihan Jalan, Lihat Perkembangannya
Penulis: galih permadi | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- "Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat. Seakan hidup ini tak ada artinya lagi. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan Kebesaran dan KuasaNya, bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa. Jangan menyerah...jangan menyerah...".
Penggalan lirik lagu Jangan Menyerah yang dibawakan D'Masiv di atas menjadi gambaran kondisi Ana Amelia (9) saat ini. Tiap hari, tak kenal lelah Amel menjalani terapi penyembuhan kelumpuhan di RSUD Kota Semarang. Siswa kelas III itu lumpuh akibat jatuh terduduk lantaran bullying yang dilakukan teman sekelasnya di SDN Mangkang Wetan II Semarang, beberapa waktu lalu.
ANA AMELIA DIPANGKU IBUNDA
Rabu (4/5) kemarin, merupakan hari ketiga Amel berada di Ruang Bima rumah sakit yang dikenal dengan sebutan RSUD Ketileng itu. Pagi hari sekitar pukul 10.00, Rini Ekowati tampak terburu-buru masuk ke bangsal tempat Amel dirawat. Tangan kanannya, Rini memeluk sebuah boneka sapi warna coklat.
Rini merupakan fisioterapis yang menangani Amel selama masa terapi di rumah sakit. Rini menyapa Amel yang tampak terbaring di tempat tidur dengan jarum infus yang tertancap di tangan kirinya. Amel yang masih lemas hanya tersenyum membalas sapaan Rini.
ANA AMELIA ATAU AMEL TERAPI DI RSUD KETILENG
Rini memberikan boneka sapi yang akan menemani Amel ketika melakukan terapi. Rini lantas memasang penyangga leher Amel. Perlahan Amel dibantu bangun lantas duduk di pinggir tempat tidur. Rini meminta Amel merekatkan kedua jari dengan kuat. Selanjutnya Amel diminta mengangkat kedua tangannya ke atas dan ke bawah secara perlahan. Sesekali Rini meminta Amel menjabat tangannya secara erat. "Lebih kencang lagi. Udah cuma segitu?," tanya Rini. Amel hanya mengangguk membalas pertanyaan.
Amel selanjutnya diminta berdiri lalu berlatih berjalan dari bangsal ke selasar lalu kembali ke bangsal. Amel demi sedikit melangkahkan kakinya, meski masih gontai. Amel semangat menjalani terapi awal. Bibirnya selalu tersungging menampakkan kebahagiaan setelah hampir sebulan ia hanya terduduk lumpuh di kamarnya. "Senang ya bisa jalan lagi," tanya Rini. Amel mengangguk lantas menjawab, "Senang," ujarnya lirih.
Rini selanjutnya membawa Amel ke ruang terapi di Gedung Rehabilitasi. Di ruangan tersebut Amel dilatih kekuatan jari tangan kanan dan kaki kanannya yang mengalami kelemahan otot lantaran lama tidak digunakan. Amel tampak semangat menjalani tahap demi tahap terapi. Bahkan ketika sudah melakukan beberapa kali terapi, Amel merasa tidak lelah. "Sudah capek belum," tanya Rini. Amel hanya geleng kepala. "Ya sudah lanjut lagi. Tarik nafas dulu," kata Rini.
Ibunda Amel, Indah Cahyani mendampingi anaknya selama menjalani terapi. Ia senang anak keduanya tersebut sudah perlahan-lahan bisa kembali jalan. "Amel dibawa ke sini Senin (2/5) kemarin. Dijemput pihak puskesmas pakai ambulans. Baru tiga hari diperiksa dan diterapi sudah bisa jalan. Biar bisa sekolah lagi. Ini sudah tidak masuk sekolah hampir sebulan," ujarnya.
Indah menyampaikan terima kasih kepada Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi yang sudah membantu kesembuhan putrinya. "Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk Pak Wali Kota. Dan juga pihak rumah sakit yang memberi pelayanan dengan baik," ujarnya.
Direktur Utama RSUD Kota Semarang, Susi Herawati mengatakan pasien Ana Amelia sedang menjalani terapi pada tangan dan kaki kanan. Amel mengalami retak pada medula spinalis (sumsum tulang belakang) yang mengakibatkan kelemahan otot tangan dan kaki kanan. "Di telapak tangan dekat jempol ototnya mengecil sehingga diperlukan terapi untuk menguatkan otot yang sudah lama tidak digunakan," ujarnya.