OPINI
Kecerdasan Digital dan Social Capital
Warga digital adalah orang yang sadar akan hal benar dan yang salah, menunjukkan kecerdasan perilaku teknologi, dan bisa membuat pilihan yang tepat
Opini ini ditulis oleh Dosen FE Unissula Semarang, Ken Sudarti, SE., MSi
TRIBUNJATENG.COM - Lama tak bertemu, lalu kembali bertemu dengan teman lama di sosial media merupakan suatu kebahagiaan tersendiri.
Mengenang masa lalu yang memorable membuat kita serasa di alam yang berbeda.
Namun pertemuan yang awalnya baik, bisa menjadi konflik pada akhirnya karena adanya posting-an yang tidak pantas atau menimbulkan ketidaknyamanan.
Mulai dari saling pamer, saling menyindir, saling debat sampai saling menghina. Hal ini tentu saja akan mencederai niat awal yaitu menjalin tali silaturahim.
Sebagai makhluk sosial, kita memang membutuhkan interaksi dengan orang lain.
Kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan saling berkunjung dan saling menyapa.
Perilaku ini merupakan ciri khas budaya Indonesia.
Kokohnya budaya akan berdampak pada kokohnya modal sosial.
Modal sosial adalah suatu rangkaian proses hubungan antar manusia yang ditopang oleh jaringan, norma-norma dan kepercayaan yang memungkinkan koordinasi yang efektif dan efisien demi keuntungan bersama (Supriono, 2009).
Menurut Tesoriero (2008) modal sosial dapat dilihat sebagai perekat yang menyatukan masyarakat.
Hal ini karena seseorang melakukan sesuatu terhadap sesamanya karena ada kewajiban sosial, timbal balik, solidaritas sosial dan komunitas.
Dalam banyak literatur, sudah terbukti bahwa modal sosial mempunyai peran penting dalam membangun daya saing atau keunggulan suatu masyarakat.
Saat ini telah terjadi pergeseran terhadap pembentukan modal sosial.
Jika sebelumnya modal sosial dibangun melalui kegiatan interaksi fisik antaranggotanya, tetapi dengan berkembangnya internet, modal sosial juga dibentuk melalui interaksi di dunia maya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-pornografi_20170612_220721.jpg)