CATAT, Mulai 30 September Wajib Pakai Kartu Tol di Dua Gerbang Tol Semarang Ini
Bagaimana kalau ada pengendara yang masih belum memiliki kartu tol tapi telanjur masuk jalan bebas hambatan ini?
Penulis: raka f pujangga | Editor: abduh imanulhaq
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Raka F Pujangga
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Jasa Marga Cabang Semarang akan memulai lebih awal kewajiban pembayaran nontunai di dua gerbang tol di Kota Lumpia ini.
Mulai 30 September nanti, pengendara yang melintas di gerbang Gayamsari dan Muktiharjo harus menggunakan uang elektronik atau biasa disebut kartu tol.
Kebijakan itu sesuai Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang dicanangkan pemerintah.
Melalui gerakan ini, seluruh gerbang tol sudah menerapkan transaksi nontunai pada Oktober mendatang.
General Manager Jasa Marga Cabang Semarang, Dwi Winarsa, mengatakan penerapan nontunai di gerbang Gayamsari dan Muktiharjo semacam pilot project.
"Kami memulai lebih dulu di sana karena penggunaan nontunainya masih minim dibandingkan dua gerbang tol lain di Semarang," kata Dwi di kantornya, Rabu (30/8/2017).
Adapun kewajiban nontunai di gerbang Tembalang dan Manyaran sesuai jadwal 100 persen pada 31 Oktober.
"Dalam catatan kami, pengendara yang menggunakan nontunai terbesar ada di gerbang tol Tembalang, sekitar 40 persen. Di gerbang tol lain masih di bawah itu," imbuhnya.
Empat gerbang tol itu memiliki total 32 gardu, terdiri atas 14 gerbang tol otomatis (GTO) dan 18 gardu reguler.
Pada saatnya, gardu reguler akan dialihkan menjadi gerbang semi-otomatis (GSO).
Bagaimana kalau ada pengendara yang masih belum memiliki kartu tol tapi telanjur masuk di jalan bebas hambatan ini?
"Meski bernama semi-otomatis tapi pelayanannya tetap nontunai. Jadi kalau ada pengendara yang belum memiliki uang elektronik, bisa membeli kepada petugas yang ada di gerbang tersebut," paparnya.
Secara bertahap, 18 GSO akan menjadi GTO yang menerima transaksi nontunai untuk semua golongan kendaraan.
Dwi menyatakan butuh investasi yang cukup besar hingga mencapai total sekitar Rp 9 miliar.
"Pengubahan GSO menjadi GTO butuh waktu karena terkait investasi. Satu GTO itu investasinya sekitar Rp 500 juta," jelas dia. (*)