Ini Cara Kampus Unissula Hadapi Revolusi Industri 4.0

Maksud Rektor Unissula Anis Malik Thoha mengundang pihak Kemenristekdikti itu guna mengetahui langkah apa saja

Ini Cara Kampus Unissula Hadapi Revolusi Industri 4.0
TRIBUNJATENG/DENI SETIAWAN/ist
Secara khusus kemarin, Jumat (19/1/2018) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang mengundang Staf Khusus Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Abdul Wahid Maktub untuk menyosialisasikan kebijakan terbaru kementerian dalam menyambut Revolusi Industri 4.0. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Secara khusus kemarin, Jumat (19/1/2018) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang mengundang Staf Khusus Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Abdul Wahid Maktub untuk menyosialisasikan kebijakan terbaru kementerian dalam menyambut Revolusi Industri 4.0.

Maksud Rektor Unissula Anis Malik Thoha mengundang pihak Kemenristekdikti itu guna mengetahui langkah apa saja yang harus dilakukan pihak kampus, khususnya Unissula terhadap Revolusi Industri 4.0 tersebut.

“Di era seperti saat ini, dunia pendidikan tak terkecuali kami di perguruan tinggi pun harus berbenah, menyesuaikan diri, serta mengantisipasi di setiap perkembangan yang notabene ternyata cepat berubahnya,” jelas Anis.

Karena itu, ucap Anis kepada Tribunjateng.com, Sabtu (20/1/2018), perlu adanya kesepahaman di internal kampus terhadap kebijakan-kebijakan terbaru yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat melalui Kemenristekdikti tersebut.

“Kami, seluruh civitas akademika Unissula merasa memang harus memiliki atau masuk ke dalam spesifikasi 4.0 tersebut. Dan di tahun ini, itu yang akan kami upayakan sehingga siap dan senantiasa siap menyambut revolusi industri itu,” tandasnya.

Menurutnya, apa yang disampaikan Abdul Wahid ketika berada di Unissula kemarin itu benar adanya. Dan dirasa seluruh pihak, baik itu dosen, karyawan, hingga mahasiswa telah paham, sikap tepat apa yang perlu dilakukan agar tidak tertinggal dengan lainnya.

“Yang survive di masa mendatang benar-benar mereka yang mampu meresponnya secara tepat dan cepat. Satu di antaranya kembali melihat dan memantapkan program, visi, maupun misinya. Lalu fokus untuk untuk mencoba mewujudkannya,” terang Anis.

Terpisah, dalam keterangan yang diterima Tribunjateng.com, Abdul Wahid berujar, revolusi industri pertama ketika itu ditandai melalui penemuan mesin uap. Lalu kedua adalah listrik, dan ketiga yakni komputasi.

“Sedangkan yang revolusi industri yang keempat ini, yakni era kombinasi dari ketiga era sebelumnya. Yang dampaknya pula, dalam perjalanannya bakal terjadi perubahan secara cepat. Dan di era ini, karakter lah yang bakal menjadi faktor pembeda,” jelasnya.

Dan, lanjutnya, di dunia pendidikan seperti perguruan tinggi pun akan merasakannya. Ketika sebuah universitas tidak bisa menyesuaikan diri, lambat dalam merespon setiap perubahan yang cepat itu, baik langsung maupun tidak langsung akan runtuh dan tak bisa berbuat apa-apa karena tak memiliki arah yang jelas.

“Kecepatan dalam merespon memang mutlak untuk dilakukan. Tetapi perlu tepat pula dalam bersikap. Dan satu di antara faktor penunjangnya adalah kepercayaan antara satu dengan lainnya. Atau arti kata lain adalah sepemahaman, tidak berjalan sendiri-sendiri,” paparnya. (*)

Penulis: deni setiawan
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help