Senin, 15 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tanoto Foundation

Project Kilat: Ubah Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi dalam Pembelajaran IPA

Project Kilat, singkatan dari Karya Inovasi Lilin Aroma Terapi. Intinya adalah memanfaatkan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi.

Tayang:
Penulis: Adi Tri | Editor: abduh imanulhaq
IST
Sudiyanti SPd, Guru SMP Negeri 2 Pangkah Kabupaten Tegal & Fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation 

Oleh: Sudiyanti SPd, Guru SMP Negeri 2 Pangkah Kabupaten Tegal &
Fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation

PADA materi IPA kelas VII tentang interaksi makhluk hidup dengan lingkungan, saya beberapa kali menemukan pola yang sama. Siswa dapat mengulang konsep dasar, misalnya pengertian pencemaran, tetapi ketika diminta menganalisis hubungan aktivitas manusia dengan dampaknya, jawaban mereka sering masih umum. Pembelajaran terasa berhenti di teori, belum sampai pada tahap menyusun gagasan tindakan yang bisa dilakukan di sekitar mereka.

Keterlibatan belajar juga menjadi tantangan. Jika kegiatan didominasi mencatat, membaca, dan menjawab soal, sebagian siswa cenderung pasif. Saya membutuhkan strategi intrakurikuler yang tetap sesuai tujuan pembelajaran, tetapi memberi ruang untuk bertanya, berdiskusi, mencoba, dan mempresentasikan hasil.

20260223_Tanoto2
Project Kilat, singkatan dari Karya Inovasi Lilin Aroma Terapi. Intinya adalah memanfaatkan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi.

Di sisi lain, persoalan lingkungan sebenarnya ada di sekitar sekolah dan rumah siswa. Di wilayah kami banyak penjual gorengan, artinya minyak jelantah mudah ditemukan. Minyak bekas ini sering dibuang sembarangan. Jika masuk saluran air, minyak dapat menimbulkan bau, menyumbat aliran, dan memicu pencemaran. Saya melihat ini sebagai masalah nyata yang dekat dengan kehidupan siswa, sekaligus peluang untuk menghadirkan pembelajaran kontekstual.

Dari kebutuhan itu saya merancang Project Kilat, singkatan dari Karya Inovasi Lilin Aroma Terapi. Intinya adalah memanfaatkan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi. Proyek ini saya pilih karena bahan mudah didapat, proses bisa dilakukan di sekolah dengan pengawasan, dan hasilnya berupa produk konkret sehingga siswa bisa melihat keterkaitan antara konsep IPA dan tindakan nyata.

Kegiatan ini saya jalankan dengan model project-based learning dan pendekatan inkuiri kolaboratif. Siswa tidak hanya membuat lilin, tetapi juga belajar mengidentifikasi masalah, merumuskan pertanyaan, memilih solusi, bekerja sama, lalu mengomunikasikan hasil. Kolaborasi sederhana lintas mata pelajaran juga dilakukan, misalnya penguatan hitung sederhana untuk melihat kemungkinan untung-rugi produksi.

Pelaksanaan Project Kilat saya susun dalam tiga pertemuan. Pada pertemuan pertama, pembelajaran diawali pemantik berupa video atau cerita tentang pencemaran akibat pembuangan minyak jelantah. Setelah itu, siswa berdiskusi dalam kelompok untuk menjawab pertanyaan: apa dampaknya bagi lingkungan, mengapa bisa terjadi, dan upaya apa yang realistis dilakukan oleh siswa.

Dari diskusi muncul beberapa ide, seperti membuat sabun, menyaring minyak, atau mengolahnya menjadi lilin. Melalui pertimbangan ketersediaan bahan, keamanan, serta waktu pembelajaran, siswa menyepakati lilin aromaterapi sebagai proyek utama.

Pada pertemuan kedua, siswa mulai praktik. Mereka membawa minyak jelantah dari rumah, sebagian mengumpulkan dari tetangga yang berjualan gorengan. Sebelum digunakan, minyak direndam arang minimal 24 jam di rumah untuk mengurangi bau.

Di kelas, siswa bekerja sesuai lembar kegiatan: menyiapkan wadah kecil, sumbu, dan bahan aroma (serai, kayu manis, atau esens wangi). Dengan pengawasan, setiap kelompok memproduksi lilin aromaterapi. Dalam dua jam pelajaran, produk dapat selesai dengan variasi aroma dan tampilan yang beragam.

Pertemuan ketiga diisi presentasi, tanya jawab, dan refleksi. Setiap kelompok mempresentasikan hasil: bahan, langkah kerja, alasan memilih aroma, serta manfaat produk bagi lingkungan.

Kelompok lain memberi pertanyaan dan umpan balik. Kegiatan ditutup refleksi bersama untuk menjawab tiga hal: apa yang didapatkan, apa yang masih kurang, dan perbaikan apa yang akan dilakukan jika proyek diulang.

Dari respons siswa, saya menangkap perubahan sikap dan cara berpikir. Ada yang berkata, “Ternyata minyak jelantah bisa jadi barang bermanfaat, bukan cuma sampah.” Ada juga yang menyampaikan, “Belajar begini lebih gampang paham, soalnya nyata dan bisa dibuat sendiri.”

Beberapa siswa mengaitkan dengan kebiasaan di rumah, mereka ingin mengingatkan keluarga agar tidak membuang minyak jelantah ke selokan. Rekan guru yang mendampingi juga melihat dampak positif, terutama meningkatnya keaktifan diskusi dan keberanian siswa menyampaikan ide. Materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan terasa lebih hidup karena berangkat dari persoalan yang mereka kenal.

Ada beberapa hal yang berjalan baik. Keterlibatan siswa meningkat karena mereka memegang peran nyata dalam proses. Pemahaman konsep menjadi lebih bermakna karena siswa menyusun hubungan sebab-akibat dari aktivitas manusia, dampaknya bagi lingkungan, lalu memilih upaya pencegahan. Keterampilan kolaborasi dan komunikasi juga terlihat berkembang melalui kerja tim dan presentasi.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
1 - 0
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
5 - 1
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved