Pemimpin Kelompok Diduga Aliran Sesat : Salat di Masjid Itu Tidak Wajib
Andi Rodiyono (63), seorang pemimpin kelompok diduga warga sebagai aliran sesat mengaku bahwa melakukan sembahyang salat di masjid
Penulis: Reza Gustav Pradana | Editor: galih permadi
Laporan Reporter Tribun Jateng, Reza Gustav
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Andi Rodiyono (63), seorang pemimpin kelompok diduga warga sebagai aliran sesat mengaku bahwa melakukan sembahyang salat di masjid hukumnya tidak wajib.
Hal itu dikatakannya saat setelah diperiksa dan dimintai keterangan oleh Kompol Mulyadi, Kapolsek Pedurungan Polrestabes Semarang, beserta wartawan pada Kamis (15/2/2018) dini hari di Mapolsek Pedurungan.
Pihaknya yang memeluk agama Islam mengaku bahwa dia dan kelompoknya tidak pernah berinteraksi dengan dunia luar, bahkan untuk pergi ke masjid.
“Di KTP saya beragama Islam. Saya tidak salat di masjid. Tidak wajib,” katanya.
Dia juga mengatakan kegiatan kelompok ini tidak berhubungan dengan agama apa pun.
“Di situ kami bukan masalah agama. Ada juga yang beragama Kristen dan lain-lain yang bersama kami. Bebas. Yang penting akhlak kita,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, lokasi yang menjadi tempat kegiatan yang warga sekitar sebut sebagai aliran sesat itu yakni rumah No 7 RT 1 RW 11 Palebon, Pedurungan Kota Semarang.
Banyak laporan dari warga sekitar mau pun para kerabat dari anggota perkumpulan itu yang mencurigai adanya kejanggalan lantaran rumah itu selalu tertutup.
Kemudian Polsek Pedurungan Polrestabes Semarang mengamankan sejumlah atau sekelompok orang yang diduga melakukan kegiatan penyimpangan kepercayaan, Rabu (14/2/2018) malam.
Ada 43 orang (11 kepala keluarga) yang terlibat dalam perkumpulan atau kelompok itu.(*)