Yosep Parera Setuju Pancasila Masuk Kurikulum Pendidikan di Indonesia

Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Kota Semarang menyambut baik adanya wacana pemerintah pusat memasukan lagi Pancasila dalam kurikulum pendidikan.

Yosep Parera Setuju Pancasila Masuk Kurikulum Pendidikan di Indonesia
Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Pengacara sekaligus pendiri Rumah Pancasila, Theodorus Yosep Parera, berbincang-bincang dengan anak-anak penghuni yayasan panti asuhan Tunas Rajawali Semarang, saat meninjau lokasi, Sabtu (25/8/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Hesty Imaniar

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Rumah Pancasila dan Klinik Hukum di Kota Semarang menyambut baik, adanya wacana di pemerintah pusat yang akan menghidupkan lagi pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di kurikulum pendidikan di Indonesia.

"Kami memberikan apresiasi untuk usulan tersebut, jadi kita dukung," kata, Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Theodorus Yosep Parera, Sabtu (1/12/2018).

Meski demikian, pihaknya memberikan masukan bahwa Pancasila itu bukan saja untuk diajarkan dan dimengerti oleh para siswa.

Tetapi lebih dari itu, pemerintah juga harus mengajarkan mengenai cara bagaimana mempraktikkan Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari.

"Sehingga perilaku kita benar-benar dapat membawa kita untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa ini untuk hidup berpancasila," ungkapnya.

Yosep mengutip seperti yang dikatakan Sukarno saat itu, bahwa Pancasila merupakan western schouwen dari Indonesia. Artinya, cara seluruh bangsa memandang Indonesia sebagai negara satu kesatuan, yang memiliki keanekaragaman namun tetap bersatu menjadi negara yang besar.

"Sebagai bangsa yang cukup lama ini tentu ingin bersatu membangun negara yang berketuhanan, dan bermasyarakat, dan hal ini sesuai dengan Pancasila kita maka dari itu, perlu sekali Pancasila ini dikembalikan ke kurikulum pendidikan di Indonesia," bebernya.

Adapun ia juga mengungkapkan, bahwa pancasila juga merupakan peta jalan untuk bagaimana aparatur pemerintahan yang dipilih rakyat bersatu duduk bersama, untuk mendiskusikan sekaligus membuat regulasi untuk melayani warganya dengan baik.

"Maka, kurikulum yang harus diberikan adalah praktik menjalankan nilai-nilai dan filosofi Pancasila di dalam kehidupan sehari-hari, bermasyarakat, berpemerintaha, maupun dalam lingkup privat," katanya.

Yosep juga menegaskan, Pancasila merupakan warisan pendiri bangsa sebagai peta jalan untuk menuntun seluruh orang Indonesia dalam kehidupan yang ramah di Indonesia.

"Pancasila tidak identik dengan perilaku orang perorangan. Pancasila adalah sebuah kesamaan nilai dan tujuan dari berbagai macam bangsa yang sepakat bersatu dalam bingkai NKRI," tegasnya.(hei)

Penulis: hesty imaniar
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved