Liputan Khusus
Sepak Terjang Memburu Perampok, Polisi Terpaksa Begadang di Kuburan
Tidur di musala dan SPBU sudah biasa. Kami pantang pulang kalau belum
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Menangkap pelaku kriminal, tidak semudah yang dibayangkan. Petugas kepolisian harus bekerja ekstra keras untuk mengungkap kasus sekaligus menangkap penjahat.
Tidak jarang anggota kepolisian meninggalkan anak istri hingga berbulan-bulan, bahkan melakukan pengintaian di tempat-tempat yang tidak lazim, seperti pekuburan.
Peristiwa perampokan Toko Emas Kancil di Pasar Pegandon, Kabupaten Kendal, 15 Desember 2013 lalu, misalnya, memaksa tim gabungan Polda Jateng harus bekerja nonstop selama hampir dua bulan.
"Tidur di musala dan SPBU sudah biasa. Kami pantang pulang kalau belum berhasil meringkus sasaran," kata AKBP Arman Asmara, Kepala Unit Jatanras Ditreskrimum Polda Jateng kepada Tribun Jateng, Minggu (16/2/2014).
Seperti diketahui perampokan emas di Pegandon berlangsung tak lebih dari 10 menit. Anggota tim khusus dari Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jateng, AKP Fahrul, tiba di lokasi kejadian beberapa jam kemudian.
"Perjalanan dari Mapolda Jateng memerlukan waktu cukup lama. Jadi, sesampainya di sana kondisi sudah sepi. Pelaku sudah kabur ke hutan," kata Fahrul .
Fahrul bersama teman-temannya dari Unit Jatanras di bawah pimpinan AKBP Arman lalu menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP). Fahrul kemudian mengejar pelaku yang kabur ke hutan. Berjam-jam di dalam hutan, upaya tim khusus tidak membuahkan hasil berarti.
"Kami memintai keterangan saksi-saksi kemudian menemukan dua unit sepeda motor yang ditinggal oleh pelaku. Kami juga menemukan empat pasang sepatu milik pelaku. Sepatu itu penting karena belakangan dapat mengidentifikasi pelaku," kata Fahrul.
Berbekal keterangan saksi dan temuan barang bukti, Fahrul akhirnya dapat mengidentifikasi para pelaku yang telah kabur menyebar ke berbagai daerah. Fahrul bersama enam orang temannya naik dua mobil ke Lampung untuk mengejar satu pelaku.
Sementara dua tim lain ada yang memburu ke Bekasi (Jawa Barat) dan Tayu, Pati. "Saat akan pergi kami tidak pernah tahu akan berapa hari pengejaran itu.
Sesampainya di sana kami juga tidak tahu persis di mana lokasi tersangka. Akhirnya kami dapat menangkap pelaku setelah mengumpulkan keterangan sejumlah warga setempat dan dibantu oleh kepolisian Lampung," terangnya.
Tim lain yang menangkap pelaku di Tayu Pati juga mengalami tantangan cukup sulit. Mereka harus berjalan berkilo-kilo meter untuk mencari dua pucuk pistol milik satu perampok emas. Pistol tersebut dikubur di tanah di daerah pegunungan di Tayu, Pati. Tim AKBP Arman akhirnya bisa tersenyum lega karena berhasil menangkap empat pelaku perampokan.
AKBP Arman menekankan kepada anggotanya untuk selalu profesional dalam menjalankan tugas. Saat melakukan perburuan, Arman menegaskan, anggotanya sudah pasti mengumpulkan barang bukti dan sejumlah saksi. Biasanya, satu atau dua anggota sudah masuk ke lingkungan di mana tersangka berada, sebelum tim lebih lengkap tiba.
Pengalaman tak kalah seru menangkap penjahat kelas kakap juga kerap dialami Kasubnit II Resmob Polrestabes Semarang, Aiptu Janadi dan anak buahnya. Pria yang ditempatkan di Unit Resmob sejak tahun 1992 ini mengisahkan timnya pernah begadang di pekuburan Dukuhseti, Tayu, Pati, semalam suntuk.
“Kebetulan areal pemakaman itu tempat yang paling memungkinkan untuk mengintai pelaku yang telah terendus keberadaannya,” terang Janadi.