Tiga Sekawan Kembangkan Roti Goreng di Kantin FEB Undip Tembalang
patungan untuk berjualan di dies natalis FEB tahun 2012
Berawal dari coba-coba membuat roti goreng di rumah, Latifatun Nikmah bangga keluarganya menyukai saat mencicipi cemilan buatannya itu. Bersama kedua temannya, ia pun lalu menjadikannya sebagai peluang untuk menjadi produk usaha.
LATIFATUN Nikmah menggandeng Hoirun Nisa Susanti dan Fitria Dwi Ariesta yang merupakan teman sekampus di Universitas Diponegoro Jurusan Akuntansi.
Roti goreng buatan mereka dilabeli Citireng yang berarti Cinta Roti Goreng. Usaha ini berdiri pada Maret 2012 di saat Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip sedang memperingati dies natalis. Pada saat itu, ada penyelenggaraan kompetisi wirausaha bekerjasama dengan Pegadaian.
Latifatun Nikmah yang akrab disapa Nanik ini mengungkapkan bisnisnya mulai mendapatkan kemudahan modal, karena diawal bisnis, Nanik bersama kedua rekannya memperoleh modal dari patungan uang pribadi.
"Modal awal, memakai uang patungan untuk berjualan di dies natalis FEB tahun 2012, akhirnya ikut kompetisi wirausaha yang diadakan kampus bekerja sama dengan Pegadaian. Dari hasil lomba tersebut akhirnya mendapat kucuran modal. Melihat perkembangan bisnis Citireng yang bagus, Pegadaian pun menambahkan modal untuk usaha kami," ujar Nanik.
Memiliki varian menu yang bermacam macam, Citireng sudah banyak memiliki pelanggan, terutama mahasiswa dan dosen di sekitar Undip.
Kalangan konsumennya memang kebanyakan mahasiswa dan dosen karena tempat usaha mereka berada di gedung C, lantai 1 kantin kampus FEB Undip Tembalang.
Meski demikian, tak jarang ketika Nanik pulang kampung ke Purbalingga banyak tetangganya, terutama kalangan ibu-ibu. Mereka memesan roti goreng buatannya.
Varian menu Citireng yang dijual Nanik, seperti coklat, coklat keju, keju, cheese beef, kornet, ayam, sosis, sandwich es krim, dan es krim goreng. Harga menu yang ditawarkan terbilang terjangkau, terutama bagi kantong mahasiswa, sekitar Rp 4.000 - 5.000.
Tidak hanya itu, Nanik juga mengungkapkan, usaha yang dirintis dengan kedua temannya ini menjual Citireng Frozen, artinya citireng yang belum digoreng atau masih mentah. Produk ini dikemas plastik yang sudah divacum atau tidak ada udara, sehingga dapat menjadi oleh-oleh yang tahan lama jika di bawa ke luar kota.
"Harga untuk produk mentah ini dibanderol Rp 22.000 per bungkus isi 5 buah roti untuk semua varian rasa," papar Nanik.
Dengan berbagai menu varian yang dijual ini, Nanik mengungkapkan dalam sehari mampu menjual sampai 175 roti. Kebanyakan konsumen menyukai rasa cheese beef. Varian ini memiliki isian beef burger, keju, mayonaise, dan saus. Bila dimakan rotinya terasa renyah.
Untuk usahanya, Nanik dan teman-temannya sudah memperhitungkan ketahanan bahan baku dari Citireng, yaitu roti yang tentunya tidak tahan lama.
Mereka mendatangkan bahan baku dari beberapa suplier tetap yang siap antar di rumah produksi. Roti bisa tahan lama jika disimpan dalam keadaan beku.
"Jadi setiap roti disimpan di dalam freezer agar tahan lama, biasanya re-stok setiap seminggu sekali, sehingga roti tetap fresh ketika digoreng," paparnya.