AOC Keluhkan Ada Area Komersil di Area Tunggu Kedatangan Bandara A Yani
Beberapa maskapai penerbangan yang beroperasi di Bandara Ahmad Yani Semarang mengeluhkan keberadaan area komersil di area kedatangan domestik
Penulis: deni setiawan | Editor: rustam aji
Laporan Reporter Tribun Jateng, Dini suciatiningrum
TRIBUNJATENG.COM , SEMARANG – Beberapa maskapai penerbangan yang beroperasi di Bandara Ahmad Yani Semarang mengeluhkan keberadaan area komersil di area kedatangan domestik. Pengelola maskapai penerbangan merasa dikesampingkan kebutuhannya oleh pihak pengelola bandara.
Ketua Airlines Operators Committee (AOC) Bandara Ahmad Yani, Hermanto mengungkapkan beberapa operator maskapai penerbangan tidak dapat melayani konsumen (penumpang pesawat) karena tidak tersedia ruangan lost and found yang seharusnya ada di area kedatangan domestik.
Dia mengeluhkan space yang ada dimanfaatkan pengelola untuk area komersil yang seharusnya berada di luar area kedatangan. Dari sepuluh maskapai penerbangan, hanya tiga maskapai yang mempunyai ruang lost and found di area tersebut.
“Pada prinsipnya, pengelola bandara seharusnya mendahulukan kepentingan untuk penerbangan daripada untuk komersil. Selain tidak tersedia ruangan lost and found yang mencukupi, ruangan tersebut ukurannya jauh lebih sempit daripada ruangan persewaan mobil yang luasnya dua kali lipat daripada ruang untuk maskapai,” ucap Hermanto yang juga menjabat sebagai Station Manager Garuda Indonesia.
Sekretaris AOC, Pujiono, menambahkan, selama ini maskapai yang tidak mempunyai ruang lost and found di Bandara Ahmad Yani, terpaksa menaruh bagasi penumpang yang tertinggal dalam kantor yang juga berfungsi sebagai ruangan pembelian tiket.
“Kantor kami saja sudah sempit apalagi ditambah bagasi-bagasi penumpang, ini jelas tidak efisien,” ujar Pujiono yang juga sebagai Station Manager Trigana Air.
Dalam bandara, lanjut Pujiono, semestinya pengelola lebih mementingkan pelayanan penerbangan dan tidak mengejar pendapatan yang akhirnya operator maskapai penerbangan tidak dapat memberikan pelayanan pada penumpang secara maksimal.
Menangapi keluhan tersebut, General Affair and Communications Section Head Bandara Ahmad Yani Semarang, menjelaskan keberadaan dua persewaan mobil di dalam area kedatangan domestik, sebenarnya tidak lepas dari sejarah bandara. Pasalnya, dua mitra usaha tersebut terlebih dahulu menempati space tersebut.
Anom menampik bila pengelola bandara lebih mementingkan komersil saja, hal itu bukan masalah tinggi atau rendahnya harga sewa yang diberikan penyewa space daripada maskapai penerbangan.
“Kami tdak mungkin merubah tempat atau area kedatangan domestik yang ada hanya karena desakan pengusahan yang lain, itu namanya tidak fair dong. Bukn karena jasa sewanya, tetapi lebih ke sejarah dulu, siapa yang terlebih dahulu menempati area tersebu,” tegas Anom. (*)