Kendala Bahan Baku Jadi Momok Industri Digital Printing
Bahan baku akan industri bahan baku percetakan digital (digital printing) hingga saat ini masih tergantung dari impor
Penulis: hesty imaniar | Editor: rustam aji
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Hesty Imaniar
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bahan baku akan industri bahan baku percetakan digital (digital printing) hingga saat ini masih tergantung dari impor. Hal itu disebabkan pasar lokal belum mampu memenuhi kebutuhan industri tersebut.
Seperti bahan baku untuk membuat produk spanduk plastik (MMT) masih mengimpor dari Tiongkok. Hal tersebut disampaikan pemilik digital printing Sumber Bahagia, Tommy Handoko kepada Tribun Jateng, Senin (8/9/2014).
"Seperti bahan spanduk, front line dan tinta semuanya diimpor dari Tiongkok. Mau tidak mau jika membutuhkan bahan baku tersebut, harus impor dari supplier," tuturnya.
Ia juga mengungkapkan, beberapa bahan baku lokal memang sudah ada dan dijual di pasaran. Akan tetapi dari segi kualitas sangat kurang memenuhi standarisasi.
"Seperti contoh untuk tinta kualitasnya kurang bagus karena warna cerahnya tidak muncul," imbuhnya Tommy, yang membuka bisnis serupa di Jalan Moch Suyudi nomor 34 Semarang.
Menurutnya, digital printing masih akan terus bergantung pada bahan baku impor. "Biasanya yang kami takutkan yakni saat konsumen komplain terhadap produk kita. Terutama ketika menggunakan bahan-bahan produk lokal. Akhirnya, untuk memberikan kepuasaan kepada pelanggan, kami tetap menggunakan bahan baku impor dengan tetap memberikan harga murah," ungkapnya. (*)