Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Tribun Jateng Hari Ini

Soal Lonjakan Harga Plastik, Pasar Butuh Rasa Aman

Plastik merupakan turunan langsung dari minyak, dari industri petrokimia. Jadi ketika terjadi gangguan di hulu, efeknya besar.

Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: Vito
Istimewa
Kaprodi Ilmu Ekonomi FEB Undip Semarang, NS Jaka Aminata 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kaprodi Ilmu Ekonomi FEB Undip Semarang NS Jaka Aminata menyebut kenaikan harga plastik merupakan satu dampak konflik geopolitik di Timur Tengah dan penutupan selat Hormuz. 

Kalau bicara soal plastik, menurut dia, rantai pasok bahan baku seperti resin itu sangat terdampak. Hal itu karena plastik merupakan turunan langsung dari minyak, dari industri petrokimia. Jadi ketika terjadi gangguan di hulu, efeknya besar.

Untuk industri lokal, ia menyebut, bukan hanya UMKM yang terdampak. Sebenarnya industri besar dulu yang terkena, baru kemudian efeknya turun ke UMKM. 

"Hanya saja, karena UMKM skalanya kecil, dampaknya langsung terasa. UMKM itu sifatnya subsisten. Mereka tidak punya cadangan modal atau stok besar," katanya, kepada Tribun Jateng, Senin (6/4). 

"Jadi ketika terjadi gangguan pasokan, mereka langsung menggelepar. Berbeda dengan industri besar yang masih punya buffer," sambungnya.

Kemarin saja sebelum Ramadan sampai Idulfitri, Jaka menuturkan, harga bahan baku plastik naik hampir setiap hari. Ini membuat pedagang bingung menentukan harga karena tidak ada kepastian.

Masalahnya, ia menyebut, subsidi itu lebih banyak dinikmati industri besar. UMKM tidak sepenuhnya merasakan. Jadi ketika terjadi gangguan pasokan, mereka yang paling cepat terdampak.

Jaka menyatakan, selama ini fokus masyarakat selalu tertuju ke BBM, padahal turunan minyak itu banyak sekali. Plastik merupakan satu di antaranya, dan belum banyak dibahas secara luas.

Kalau bicara solusi di level mikro, dia menambahkan, sebenarnya turunan dari kondisi global dan nasional. Ketika ada ketidakpastian, pedagang jadi khawatir, akhirnya harga naik.

"Yang dibutuhkan adalah rasa aman di pasar. Kalau tingkat ketidakpastian turun, harga akan lebih stabil. Pemerintah juga perlu hadir untuk mengoreksi industri besar petrokimia, karena dampaknya ke bawah sangat besar," jelasnya. 

Jaka mengungkapkan, saat ini yang paling terasa memang di pelaku usaha kecil dan menengah. Namun, kalau ditarik ke konteks yang lebih luas, gangguan ini juga dipengaruhi rantai distribusi global. 

Di sisi lain, hubungan geopolitik juga berpengaruh. Iran melihat Indonesia cenderung lebih dekat ke Amerika Serikat (AS), terutama dengan konsep Board of Peace (BOP). 

Ia berujar, hal ini membuat posisi Indonesia tidak sepenuhnya mendapatkan simpati. Padahal, dalam konteks energi, kita membutuhkan hubungan yang baik dengan negara produsen seperti Iran.

Karena itu, Jaka menyampaikan, kunci utamanya ada di kepemimpinan. Presiden harus tegas menentukan posisi, tidak bisa setengah-setengah antara Iran, AS, Eropa, atau Rusia.

Pasar hanya butuh satu hal, yakni kepastian. Pernyataan yang jelas di panggung global, seperti yang dilakukan negara-negara seperti Spanyol, Jerman, atau Inggris.

"Kalau bicara kepentingan ekonomi, kita harus realistis. Kita butuh energi, maka diplomasi ke Iran harus diperkuat. Jadi pada akhirnya, stabilitas itu kuncinya baik dari sisi kebijakan, diplomasi, maupun kepastian pasar," paparnya. (Rezanda Akbar D)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved