UANG PALSU

Suripto Cetak Uang Palsu Rp 36 Juta Sehari

Suripto Cetak Uang Palsu Rp 36 Juta Sehari. Dia juga pernah dipenjara kasus edarkan uang palsu

Editor: iswidodo
tribunjateng.com/galih permadi
ILUSTRASI UANG PALSU 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Setelah bebas dari penjara akibat tertangkap mengedarkan uang palsu, Suripto (45) warga asli Leksono, Wonosobo, kembali berurusan dengan kepolisian dalam kasus yang sama.

Saat menjadi pengedar uang palsu, Suripto (45) ditahan selama tiga tahun dan bebas pada tahun 2005.

Kali ini kakek satu cucu ini naik kelas. Dia tak lagi mengedarkan uang palsu, melainkan memproduksi atau membuat uang palsu.

Menggunakan perangkat sablon dan printer berkualitas tinggi, Suripto bersama dua rekannya membuat dan mencetak uang palsu pecahan Rp 100 ribu.
Saat gelar perkara di Polrestabes Semarang, Rabu (1/10), Suripto mengatakan sudah tiga bulan memproduksi uang palsu (upal) di Kota Semarang.

Dia dan dua rekannya mengontrak sebuah rumah di Perumahan Graha Pesona, Jatisari, Mijen, dan dijadikan tempat mereka mencetak upal. "Baru tiga bulan, sebelumnya di Jepara tapi cuma mengedarkan saja," ujar Suripto. Berbekal kertas khusus berukuran legal, Suripto mula mula menyablon lapisan dasar pada kertas tersebut menggunakan tinta yang dia sebut Tinta Emas.

Lapisan dasar ini berguna untuk memasang gambar hologram dan kertas pita hologram yang mirip pada pecahan uang Rp 100 ribu. Saat diterawang, gambar hologram dan pita hologram juga terlihat persis seperti aslinya.

Setelah lapisan dasar disablon, dia kemudian mencetak gambar uang menggunakan printer berkualitas tinggi pada kertas yang sudah diberi lapisan dasar. "Sudah ada cetakannya, sesudah disablon, baru diprint gambarnya," katanya.

Suripto mengaku tergiur tawaran dua rekannya yang masih buron yakni A dan I lantaran iming-iming gaji perbulan Rp 3 juta.

Dia yang sudah memiliki kemampuan menyablon, akhirnya menerima tawaran tersebut. Suripto yang membuat, sedangkan yang menerima order adalah I dan A.
"Kalau print kadang masih mleber tintanya, cetak uang palsu agak susah karena harus betul betul detail. Saya cuma bikin saja, yang tahu orderan A dan I," katanya.

Dalam sehari, Suripto bisa memproduksi 80 hingga 90 lembar kertas uang palsu siap potong. Setiap lembar kertas menjadi empat lembar uang palsu pecahan Rp 100 ribu.
"Itu lima kali cetak, bisa 80 sampai 90 lembar kertas. Satu lembarnya jadi empat lembar uang. Kalau ditotal bisa jadi Rp 36 juta sehari uang palsunya," katanya.

Warga yang curiga terhadap gerak gerik Suripto cs pun melapor ke Polsek Mijen. Ketika anggota polisi datang ke rumah kontrakan, Selasa (30/9) dini hari sekitar pukul 04.00, Suripto berusaha melarikan diri. Namun rumah tersebut sudah dikepung dan Suripto bisa diringkus.
Dari rumah kontrakan Suripto, polisi menemukan 500 lembar kertas yang sudah disablon dasar, 68 lembar kertas uang palsu yang sudah dicetak namun belum dipotong, satu perangkat komputer, satu unit printer foto copy, serta alat sablon.

Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Wika Hardianto SH SIK, mengatakan, pihaknya masih mengembangkan jaringan Suripto. "Masih ada dua lainnya yang kami kejar, identitasnya sudah kami kantongi," ujar Wika.

Wika menambahkan, tersangka dijerat pasal 37 undang undang nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang subsider pasal 244 KUHP tentang pemalsuan uang dengan ancaman hukuman seumur hidup dan denda Rp 100 miliar.

Wika mengimbau kepada masyarakat agar selalu waspada akan peredaran uang palsu saat ini yang semakin canggih.

"Kalau dilihat kasat mata, mirip. Ada beberapa uang palsu yang ditemukan apabila disinari sinar UV, juga mirip seperti asli. Kalau lengah atau lalai, bisa bisa masyarakat bertransaksi menerima uang palsu. Itu sangat merugikan, jadi saya himbau untuk berhati hati," katanya.
Dia menambahkan, agar masyarakat merespon cepat apabila ada gerak gerik atau aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar.

"Contoh kasus ini, terbongkar berkat laporan warga yang curiga akan aktivitas penghuni rumah. Jadi jangan segan untuk melapor," pungkasnya. (tribuncetak/lyz/dse)

* Residivis kasus upal, Suripto (45) memproduksi uang palsu pecahan Rp 100 ribu.
* Suripto sudah tiga bulan memproduksi upal di Kota Semarang.
* Suripto diberi gaji oleh A dan I per bulan Rp 3 juta.
* Berkat laporan masyarakat, polisi berhasil menangkap Suripto, namun A dan I masih buron.
* BI mengingatkan daerah pinggiran menjadi sasaran peredaran uang palsu

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved