Outlook Jateng 2015
Prof Dr Imam Buchori Guru Besar Undip Kritik Pembangunan di Jawa Tengah
Guru Besar Fakultas Teknik Undip, Prof Dr Imam Buchori ST, mengkritik pembangunan di Jawa Tengah.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Pembangunan infrastruktur di Jawa Tengah, terutama jalan raya, pada tahun 2014 terlihat gencar. Perbaikan di sepanjang jalur pantura, selesainya jalan tol Semarang-Bawen, hingga berbagai ringroad di sejumlah daerah menjadi contoh nyata. Apakah itu cukup? Jika tidak apa yang harus di lakukan di 2015?
Kepada wartawan Tribun Jateng, Rival Al Manaf, Guru Besar Fakultas Teknik Undip, Prof Dr rer nat Imam Buchori ST, menyampaikan analisis menarik tentang pembangunan di Jawa Tengah. Berikut petikan wawancaranya.
Menurut Anda, bagaimana pelaksanaan program infrastruktur di Jawa Tengah pada 2014?
Infrastruktur kan banyak mungkin yang paling menonjol adalah jalan, energi, dan irigasi. Jika kita bicara jalan, proses perkembangannya sudah cukup bagus jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sudah bagus, pemerintah sudah mulai banyak mengalokasikan dana untuk pembangunan jalan.
Kedua, energi, ada satu hal yang agak miss dalam pembangunan saluran listrik tegangan tinggi. Begini, untuk mengembangkan Saluran udara Tegangan Ekstratinggi (SUTET ) perlu adanya Analisis mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Nah, saya belum tahu apakah rencana dari PLN sendiri ada dalam Amdal itu. Jika tidak, maka akan kesulitan bila akan mengembangkan rute baru. Akibatnya hanya bisa membangun saluran di sekitarnya saja, ini kan repot nantinya. Seharusnya ada payung hukumnya untuk bisa membangun jalur baru.
Ketiga, untuk Irigasi saya rasa masih begitu-begitu saja. Namun, saya melihat dari instruksi presiden yang menargetkan membuat 49 waduk yang akan dibuat, mudah-mudahan Jateng menangkap peluang itu.
Omong kosong jika kita ingin unggul dalam bidang pertanian, tapi kita mengesampingkan irigasi. Pada zaman Mesir kuno, wilayah Timur Tengah yang tandus saja bisa subur karena memiliki irigasi yang bagus.
Kita, Provinsi Jawa Tengah, jelas punya potensi air tapi irigasi memang selama ini sempat tidak begitu tersentuh. Kedepan saya harap Irigasi wilayah bisa berkembang yang akan mendorong meningkatnya hasil pertanian.
Jika diberi skor 1-10 atau nilai A-E, berapa skor atau nilai pelaksanaan pembangunan infrastruktur di Jateng pada 2014?
Untuk semuanya di tahun ini saya bisa menilai 7 hingga 8-lah. Kalau saya masih bilang bagus karena investasi untuk infrastruktur untuk tahun ini cukup tinggi. Saya tidak bisa bilang jelek karena sudah ada upaya perbaikan.
Kita tidak bisa menilai pembangunan dalam satu tahun saja karena prosesnya selalu berkesinambungan. Kalau tahun ini penilaiannya menjadi starting point, tahun ini sudah cukup bagus. Ya semoga saja nantinya bisa terus berkembang dan konsisten terhadap pembangunan.
Pembangunan infrastruktur apa yang menurut Anda belum maksimal pada 2014?
Irigasi. Saya lihat pembangunan di sektor ini memang belum kelihatan geregetnya, berbeda dengan sektor transportasi, seperti jalan dan energi.
Menurut Anda, apa yang seharusnya menjadi prioritas dalam pembangunan Jateng pada 2015?
Kalau saya pembangunan infrastruktur harus simultan dan beriringan, tidak bisa kita berjalan sendiri. Oke, misal kita fokuskan irigasi untuk pertanian hasil pertanian ini nantinya juga membutuhkan transportasi untuk mengangkut hasilnya. Jadi semua harus beriringan.
Yang menjadi masalah mungkin soal pendanaan. Tapi saya pernah baca di sebuah media, Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo--Red) bilang, kerjakanlah pembangunan besar, urusan cari duit nanti, quote and quote, tugas presiden. Jika memang seperti itu, maka program pembangunan yang dampaknya besar ini harus simultan, daripada menjalankan pekerjaan kecil yang dampaknya kurang terasa. Jadi semua harus jalan bersama.
Jika mengambil prioritas itu, langkah apa yang menurut Anda perlu diambil agar program pembangunan bisa maksimal?
Saya memang belum melihat struktur APBD di tahun nanti, tapi jika melihat penghematan di bidang subsidi BBM dan itu kan dialihkan ke infrastruktur itu jelas. Kemudian awal-awal terpilihnya, Pak Ganjar (Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo--Red) juga saya ingat betul akan fokus di infrastrukutur juga.
Kalau memang itu betul saya rasa tidak ada masalah untuk memulai langkah pembangunan secara simultan. Mungkin yang akan menjadi kendala adalah urusan pembebasan lahan, mengingat dalam prosesnya akan sulit melakukan keseragaman dalam pembebasan lahan itu. Di sini yang pernah melakukan contoh solusinya adalah Pak Jokowi ketika memimpin Solo, bagaimana dia turun langsung ke lapisan bawah hingga akhirnya proses pembebasan lahan berlangsung lancar.
Nah, langkah seperti ini juga yang kita harapkan dilakukan oleh kepala daerah yang lain sehingga pembangunan bisa berjalan lancar dan meminimalkan kekacauan dalam tanda kutip dari pihak ketiga untuk memainkan harga dalam pembebasan lahan.