SUCCESS STORY
OM Ken Arok: Terimakasih Mbah Ranto Edy Gudel
OM Ken Arok: Terimakasih Mbah Ranto Edy Gudel. Lagu Anoman Obong ciptaan Mbah Ranto mengangkat Ken Arok populer.
Penulis: deni setiawan | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA- Frans mengakui, kepopuleran OM Ken Arok bukan jerih payah pribadi. Pria bernama lengkap Frans Setyo Pranoto itu menyadari, ada tangan-tangan lain yang memberi kesempatan berkembang. Selain Tuhan sebagai Sang Pencipta serta keluarga, Frans menyebut Ranto Edy Gudel sebagai sosok yang patut menerima ucapan terimakasih.
Ranto Edy Gudel merupakan seniman dan pencipta lagu asal Solo yang akhir 2002 lalu tutup usia. Lagu Anoman Obong ciptaan Ranto pada 1996 silam itu berhasil dibawakan OM Ken Arok secara fenomenal dan populer hingga kini.
"Ken Arok populer bukan semata-mata membawakan karya lagu-lagu saya. Dari Mbah Ranto Gudel melalui Anoman Obong yang sebenarnya pernah dibawakan Didi Kempot, kami lebih dikenal," ungkap pria kelahiran Jepara 29 Juli 1955 itu.
Frans juga menyebut peran serta sang istri, Mamiek Melani. Kesuksesan Mamiek menyanyikan lagu Anoman Obong disebut Frans mampu mengangkat derajad Ken Arok. Itu sebabnya, Mamiek terus dipercaya membawakan lagu tersebut di setiap panggung hingga menjadi hits dan mendongkrak penjualan album hingga mencapai 400.000 keping di pasaran.
"Setelah memperoleh izin, kami mengaransemen Anoman Obong dan dinyanyikan Mamiek Melani. Mungkin, berjodoh dan nasib, lagu tersebut mampu menghipnotis penonton," jelas bapak empat anak tersebut.
Dari lagu yang menceritakan kerusuhan di Alengka Diraja ketika Anoman menjadi duta Prabu Rama itu, Frans belajar akan arti penting keluarga. Tidak sekadar menuruti hawa nafsu seperti Rahwana dalam cerita wayang Ken Arok berusaha tetap bertahan tanpa memaksakan kehendak pribadi. "Mbah Ranto menjadi satu tokoh yang menginspirasi kami di Ken Arok, dalam menciptakan lagu. Semoga, kami bisa dan tetap eksis bersama penikmat dangdut dalam melestarikan seni daerah tersebut," kata alumni Fakultas Ekonomi UKSW Salatiga itu. (tribunjateng/deni setiawan)