Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Smart Women

Tak Canggung di Pelabuhan

Meskipun terlihat capai, Putri tetap bersemangat menceritakan perjalanan karir di dunia Pelabuhan.

Penulis: dini | Editor: Catur waskito Edy
(Tribun jateng/ Hermawan Handaka)
Indriani Putri Anggarakasih 

TRIBUNJATENG.COM -- Mengenakan rompi dan helm berwarna oranye bertuliskan PT Pelindo III Tanjung Emas, Indriani Putri Anggarakasih (29) nampak anggun ditengah arus masuk dan keluar truk peti kemas.

"Dulu, Teminal Peti Kemas Semarang (TPKS) masih ditangani Pelindo. Namun, beberapa tahun lalu, sudah menjadi anak cabang terpisah agar bisa melayani maksimal. Kini, wilayah kami (Pelindo) fokus di pelabuhan," ujar Putri.

Bulir-bulir keringat nampak menetes di dahi Putri. Meskipun terlihat capai, Putri tetap bersemangat menceritakan perjalanan karir di dunia Pelabuhan.

"Meskipun kerja saya banyak di dalam kantor tetapi tidak jarang terjun ke lapangan untuk cek kondisi. Saya tidak takut hitam apalagi terlihat jelek karena saya menyukai pekerjaan ini," papar Supervisor Kesejahteraan dan Administrasi SDM Pelindo III Tanjung Emas tersebut.

Putri tidak menyangka dapat berkarir di Pelindo III Tanjung Emas. Awalnya, selepas lulus dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) 2010, dia berencana membuka klinik psikologi. Tetapi, Tuhan berencana lain. Pada 2011, Putri terpilih menjadi staf di perusahaan tersebut dengan risiko siap dipindahkan ke pelabuhan mana saja.

"Saat itu, saya baru menikah sekitar lima bulan dan harus berpisah dengan suami karena ditempatkan di Pelabuhan Laut Tenau Kupang, Nusa Tenggara Timur. Di sana, saya bertugas selama lima bulan," cerita Putri sambil melangkah ke kantornya yang hanya berjarak beberapa meter dari TPKS.

Selama lima bulan tersebut, mental Putri ditempa dengan berbagai keadaan. Selain jauh dari keluarga, dia harus beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru. Dia juga harus mempelajari dan menyesuaikan diri dengan karakter masyarakat Kupang. Sebab, 90 persen karyawan di pelabuhan tersebut merupakan penduduk asli. Sisanya, karyawan dari pusat, termasuk Putri.

Selain harus sabar, Putri juga mulai mendapat formula bagaimana membuat karyawan nyaman serta disiplin. Ada satu peristiwa yang membuat dia gemetar saat bertugas.

"Seperti biasa, suasana Pelabuhan Kupang saat kapal sandar padat. Penumpang berebut keluar apalagi banyak porter yang juga tidak sabar. Akibatnya, beberapa penumpang adu mulut dan berujung adu senjata tajam (senjata tajam). Saya langsung terjun dan berusaha memisahkan mereka. Lewat pendekatan, akhirnya kondisi aman. Kalau ikut tersulut emosi dan mengambil tindakan keras, mungkin sekarang tinggal nama karena kehidupan di sana berbeda dari Jawa," papar Putri menerawang kejadia beberapa tahun lalu.

Setelah lima bulan, Putri dipindah tugas di Kantor Pusat Pelindo III di Surabaya. Di sini, dia ditempatkan sebagai staf pengembangan diklat yang bertugas menyusun kebutuhan kantor dan lapangan.

Selama satu tahun, dia mendatangi hotel-hotel di Surabaya untuk memberi pelatihan pada karyawan serta meninjau ke beberapa pelabuhan milik Pelindo III. Setahun berlalu, dia berpindah tugas di Pelabuhan Tanjung Perak.

Tak hanya kejadian-kejadian di lapangan yang menempa mentalnya. Kisah pribadi yang dialami selama bertugas membuat dia semakin kuat. Satu di antaranya, keguguran saat mengandung anak peratma. Pengalaman pahit tersebut bertambah karena dia menjalani sendiri tanpa sanak saudara juga suami. Dokter menduga, Putri harus merelakan janin di kandungan lantaran kelelahan.

"Saya masih ingat, perut rasanya mulas sekali dan darah mengucur di kaki saya. Tapi, alhamdulillah pengalaman tersebut membuat saya lebih menjaga kandungan anak kedua," terang Putri dengan mata berkaca-kaca.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Tags
smartwomen
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved