Minggu, 17 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Sensasi Nikmatnya Tempe Berbahan Ikan Nila

Ada belasan hasil karya riset baik dari mahasiswa, dosen, maupun industri yang dipamerkan di UKSW. Satu di antaranya adalah karya dosen Fakultas Biolo

Tayang:
tribunjateng/deni setiawan
Dosen UKSW Salatiga Ini Ciptakan Tempe Bergizi Campuran Kedelai dan Ikan Nila 

BERSAMAAN dengan Simposium Internasional, Biro Inovasi Riset (BIR) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menggelar The 2nd SWCU Research Expo 2015 di kompleks dalam kampus yang berada di Jalan Diponegoro Kota Salatiga.

Satu karya yang menarik perhatian adalah milik Lusiawati Dewi. Lusiawati sukses menemukan dan menghasilkan produk pelengkap protein berupa tempe ikan sekitar dua tahun lalu (2013 –Red).

Tahun ini karya itu telah memperoleh Hak Paten di Dirjen Hak Kekayaan Intelektual (Haki) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Jawa Tengah.

Secara umum, produk tersebut terlihat sama seperti tempe yang dijual dan dikonsumsi masyarakat.

“Sebagai innovasi terobosan tempe yang merupakan produk fermentasi kedelai oleh jamur Rhizopus oryzae atau Rhizopus oligosporus itu dipadu dengan ikan sehingga memberikan cita rasa khas atau gurih serta meningkatkan kadar protein pada tempe baik nabati maupun hewani. Untuk membuat cita rasa itu, bahan utama campuran di tempe yang cocok adalah ikan nila,” jelas Lusiawati kepada Tribun Jateng, Senin (26/10).

Selain itu, lanjutnya, daya simpan tempe juga lebih lama (lebih awet) dibandingkan dengan tempe pada umumnya.

Berdasarkan hasil riset, tempe ikan itu bisa bertahan atau tidak mengalami pembusukan hingga enam hari. Dalam proses pembuatannya, yakni mencampurkan tepung ikan yang telah dibuat sebelumnya ke dalam fermentasi kedelai.

“Dengan demikian dari segi komposisi, tempe ikan mampu memberikan kandungan protein yang lengkap. Bukan sekadar sumber nabati dari kedelai, melainkan juga dari sumber hewani dari tepung ikan nila tersebut. Selain itu pula juga terdapat kandungan omega 3 yang lebih banyak. Tambahan tepung ikan juga membuat tekstur tempe lebih lembut dan rasanya lebih gurih,” jelasnya.

Lusia berharap, melalui pemberian paten, dapat membantu para perajin tempe menjadi lebih higienis dan karya itu berkontribusi terhadap Pemkot Salatiga untuk menjadi makanan unggulan. Selain itu, tempe ikan menjadi karya asli riset dan tidak mudah dicuri pihak tak bertanggungjawab ke depannya.

“Mempatenkan hasil karya termasuk riset teknologi merupakan fenomena baru. Tetapi kami sebagai lembaga di mana riset itu dihasilkan, ingin melindungi hak cipta mereka. Jika ada yang menggunakan atau memanfaatkan innovasi kreatif itu, harus meminta izin. Meskipun untuk sementara masih ditanggung kami, tidak masalah,” ujar Pembantu Rektor V Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UKSW Neil S Rupidara.

Neil menyampaikan, guna mempopulerkan produk yang dihasilkan dari karya riset para citivas akademik di UKSW, satu langkah di antaranya adalah menggelar expo research.

“Expo yang kami gelar selama tiga hari ini, Senin (26/10) hingga Rabu (28/10), memperoleh dukungan dari beberapa industri. Satu di antaranya adalah Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Ini adalah expo kedua sejak 2013 kemarin dan akan dilaksanakan tiap dua tahun. Tujuan utama kegiatan tersebut yakni mendekatkan diri antara citivas dengan industri dan masyarakat,” jelasnya.

Ia pun ingin dunia industri dan masyarakat semakin tahu hasil riset kampus. Di UKSW, sejak tahun 2008 pihaknya mewajibkan tiap tahun harus melakukan riset. Dari sekitar 400 dosen UKSW yang telah rutin melakukannya antara 200 hingga 300 dosen.

“Dari berbagai karya, yang telah dipublikasikan ada sekitar 200 riset. Untuk yang dipatenkan, tahun ini ada sekitar tiga karya,” ujar Neil. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved