Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Smart Woman

Sempat Minder, Wanita Tunanetra Ini Kini Jadi Psikolog dan Motivator Handal

Sempat Minder, Wanita Tunanetra Ini Kini Jadi Psikolog dan Motivator Handal

Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG/HERMAWAN HANDAKA
Agung Rejeki Yuliastuti sempat minder saat matanya berubah jadi buta. Namun kemudian bangkit dan kini jadi dosen, psikolog serta motivator handal 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Perempuan penyandang tuna netra, Agung Rejeki Yuliastuti (46), berjuang melawan keterbatasannya hingga meraih prestasi. Ibu Agung, demikian sapaan akrabnya, merupakan seorang dosen dan psikolog. Ia yang mulai kehilangan penglihatannya pada umur 25 tahun itu bahkan kini menjadi seorang motivator handal.

Saat Tribun Jateng berkunjung ke rumahnya baru-baru ini, Agung yang memakai jilbab warna orange itu melontarkan sapaan ramah dan mengembangkan senyumnya. Ia yang memakai jilbab warna orange itu membuka pintu pagar besi rumahnya seraya mempersilahkan Tribun Jateng masuk ke rumahnya. Pertama kali bertemu sekilas tidak nampak tanda-tanda kekurangan fisik pada diri Agung. Agung secara cekatan menyuguhkan minuman, tanpa meraba-raba benda di sekitarnya, layaknya sebagian besar para penyandang tuna netra.

Selang beberapa waktu mengobrol, Agung pun mulai menceritakan bagaimana dia mulai bangkit dan melawan keterabatasannya itu. Ia menuturkan, semangatnya pulih tatkala seorang psikolog RS Roemani tempat dia dirawat saat terserang gangguan penglihatan menawarkan kerjasama. Psikolog bernama Retno Anggraini itu meminta Agung membantu melayani konsultasi psikolog pribadi via online. "Dari situ, saya mulai belajar mendengar, memahami, serta mencari solusi," kata wanita kelahiran Semarang, 11 Juli 1969 ini.

Perlahan tapi pasti, Agung semakin bersemangat seiring munculnya kepercayaan diri. Saat itu, dia mulai mempelajari huruf braille untuk memenuhi kebutuhan membaca buku yang dia tinggalkan selama dua tahun. Dia harus belajar sembunyi-sembunyi sebab ibunya tidak setuju bila dia mempelajari huruf braille.

"Ibu sangat sedih dan kecewa. Beliau menyayangkan saya jadi sarjana tetapi tidak bisa menerapkan ilmu, ibu juga takut bila saya berkumpul dengan tunanetra maka saya berhenti berusaha sebab dia berharap mata anaknya kembali normal," ucap Agung.

Bagi Agung, belajar huruf braille dan bergabung di Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Jawa Tengah menjadi kewajiban agar bisa beradaptasi dengan kondisinya. Pada tahun 1998, kegiatan Agung semakin berwarna tatkala ditawari mengajar di Penddikan Guru Taman Kanak-Kanan Darul Qolam. Dia mengajar mata kuliah Bimbingan Konseling sampai Agustus 2000. Bulan September, Agung menjadi dosen di PGPQ Raudatul Mujawwidin hingga sekarang.

Agung mengajar lancar sebab saat awal kuliah dia selalu membeberkan kondisinya pada para mahasiswa. "Sebelum mengajar, malam hari bapak dan ibu saya selalu membacakan materi yang akan saya ajarkan. Jadi saya hafal dan paham sehingga tidak banyak menulis," jelas Agung.

Selain menjadi dosen, Agung hingga kini masih aktif di Pertuni. Saat dipercaya sebagai ketua Pertuni 2005-2010 banyak gebrakan yang dilakukan. Satu di antara mengajari tunanetra menggunakan komputer bicara yang memahami apa yang mereka baca dan tulis. Berkat kegigihan dan semangatnya, Pertuni Jateng mendapat predikat teladan.

Dia juga mendirikan lembaga motivasi Agung Motivation Center (AMC) untuk mewadahi kegiatan, baik pelatihan maupun pendampingan. Sasaran lembaga tersebut adalah anak remaja, dan lansia tunatera maupun termasuk penyandang cacat lain.

Agung tak pernah berhenti membangkitkan semangat dan motivasi kaum tunanetra melalui beragam lembaga sosial. Ia memahami betul bila penyandang tunanetra sebagian besar mengalami masalah kemandirian, terutama wanita. Ia berpendapat bila perempuan yang cacat acapkali mendapatkan diskriminasi di lingkungan, sekolah, maupun pekerjaan.

"Memotivasi tidak hanya secara lisan, namun mencari solusi dari konflik. Kami memiliki kegiatan untuk memberikan support penyandang cacat termasuk tunanetra, agar berani menerima diri sendiri, tidak menilai rendah sehingga dia kreatif," jelasnya.

Atas semangat dan perhatian, Agung terpilih sebagai satu di antara delapan tokoh wanita Jawa Tengah yang dianggap mampu menjadi inspirasi perjuangan perempuan. (tribunjateng/cetak)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved