Opini
Memaksimalkan Potensi Wisata Jateng
Menariknya lagi, berbagai potensi itu tidah menyatu di suatu daerah tertentu, tetapi menyebar di hampir setiap kabupaten.
SEBUAH langkah menarik dan cukup progresif dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang menyanangkan Tahun 2016 sebagai ‘’Tahun Infrastruktur Pariwisata’’. Langkah tersebut diambil dengan tujuan agar sektor wisata bisa menggerakkan perekonomian masyarakat. (Tribun Jateng, 13/1/2016).
Langkah tersebut sangat tepat diambil, mengingat banyaknya potensi wisata yang dimiliki provinsi yang kini di bawah nahkoda Ganjar Pranowo tersebut, namun sarana dan prasarananya kurang memadai.
Berbagai pihak, khususnya instansi terkait, masyarakat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan lain sebagainya, mesti menyambut upaya ini dengan baik. Sebab, ini merupakan salah satu pertanda sekaligus komitmen sang gubernur dalam memaksimalkan potensi pariwisata di wilayahnya dan meningkatkan ekonomi rakyat yang dipimpinnya.
Ada beberapa hal mengapa langkah Ganjar Pranowo ini mesti disambut baik dan mendapatkan dukungan. Pertama, terjaganya kelestarian alam (lingkungan). Jika sebuah potensi wisata tergarap dengan baik, selain berkontribusi mempercantik kota, secara otomatis kelestarian lingkungan sekitarnya juga akan terjaga.
Kedua, tumbuhkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Pertumbuhan kawasan wisata, dengan sendirinya juga akan memunculkan banyak peluang-peluang bagi masyarakat sekitar meraih keuntungan.
Paling tidak, dalam kawasan wisata, akan memunculkan berbagai kerajinan yang bisa dipasarkan di seputaran area wisata dan juga pengembangan kuliner, sebagai oleh-oleh khas yang akan memberi kesan pada pengunjung, sehingga suatu saat akan merindukan untuk kembali berkunjung.
Bali dan Yogyakarta, bisa menjadi contoh betapa sektor wisata yang digarap secara maksimal, akhirnya bisa berdampak positif bagi perekonomian masyarakat sekita melalui berbagai kerajinan, kuliner, hingga munculnya trend-trend baju khas yang selalu diburu para wisatawan sebagai oleh-oleh.
Ketiga, sarana pembelajaran atau kegiatan akademik. Pengelolaan yang bagus terhadap kawasan wisata, bisa menjadi sarana pembelajaran akademik yang menarik. Tidak hanya bagi perguruan tinggi, khususnya jurusan pariwisata dan manajemen, juga bagi anak di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang secara umum dikenalkan dengan lingkungan di mana anak tinggal.
Keempat, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ini adalah dampak ikutan yang tentu akan ikut memajukan daerah. Sebab, jika kawasan wisata dikelola dengan baik sehingga banyak wisatawan yang berkunjung, maka secara otomatis PAD pun naik.
Kaya Potensi
Jawa Tengah sendiri, sebenarnya sangat diuntungkan dengan banyaknya potensi pariwsata yang bisa digarap. Menariknya lagi, berbagai potensi itu tidah menyatu di suatu daerah tertentu, tetapi menyebar di hampir setiap kabupaten.
Kekayaan potensi pariwisata Jawa Tengah itu, antara lain ada Candi Borobudur (Magelang), Karimun Jawa (Jepara), Dieng (Wonosobo), Kelenteng Sam Poo Kong dan Lawangsewu (Semarang), Tawangmangu (Surakarta), hingga tempat wisata religi di Demak (Sunan Kalijaga) serta di Kudus (Sunan Kudus dan Sunan Muria).
Tetapi sebenarnya, tidak sekadar potensi yang sudah ada saja yang bisa digarap. Masing-masing daerah juga bisa ‘’memunculkan’’ ikon wisata baru yang dirancang sedemikian rupa, namun tentu dengan kajian yang mendalam dengan melibatkan banyak kalangan.
Ketokohan RA Kartini, misalnya, bisa menjadi satu paket wisata yang mengesankan, jika bisa mengemasnya menjadi paket wisata tiga kota yang meliputi Jepara, Kudus, dan Rembang. Sebab, jejak RA. Kartini, paling tidak, bisa dilihat di tiga kabupaten ini.
Di Kudus, ada makam tokoh yang sangat dihormati di kalangan jurnalis (wartawan) dan para intelektual, yakni makam RMP. Sosrokartono yang tak lain adalah kakak kandung RA. Kartini. Tak jauh dari makam Sosrokartono, ada makam Raden Ayu Ngasirah, sang ibunda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/karimunjawa-wisata-jateng_20160202_193433.jpg)