Dulu Pernah jadi Terminal dan Pasar Malam Berbentuk Alun-alun, Ini Sejarah Pasar Yaik Semarang
Sekitar tahun 1960-1970-an, kawasan Pasar Yaik juga digunakan sebagai terminal yang melayani trayek antarkota dan dalam kota.
Penulis: galih permadi | Editor: a prianggoro
TRIBUNJATENG.COM- Kawasan Pasar Yaik Permai, menurut Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Semarang, Widya Wijayanti, memang tidak termasuk kawasan cagar budaya Pasar Johar.
Kendati demikian, kata dia, kawasan tersebut mempunyai nilai sejarah dan kebudayaan yang sangat tinggi bagi Kota Semarang.
"Sejarahnya dulu, kawasan Pasar Yaik berupa alun-alun yang berfungsi sebagai ruang terbuka dan mengakomodasi berbagai kegiatan di antaranya interaksi sosial, acara dugderan, dan pengajian sehingga menjadikan kawasan ini sangat penting keberadaannya bagi masyarakat sejak tahun 1480," kata Widya, kepada Tribun Jateng, Minggu (28/2).
Alun-alun tersebut, kata Widya, menjadi pusat kota seperti desain kota kebanyakan di Jawa Tengah, yang di sekelilingnya terdapat kanjengan atau kantor bupati dan Masjid Kauman sebagai ruang ibadah bagi masyarakat.
Sekitar tahun 1960-1970-an, kawasan Pasar Yaik juga digunakan sebagai terminal yang melayani trayek antarkota dan dalam kota. Sekitar 1970-an di kawasan tersebut lalu dibangun pusat untuk pasar atau pertokoan.
"Pasar Yaik juga dulunya disebut pasar malam lantaran buka pada malam hari," katanya.
Pada masa itu, Kali Semarang masih menjadi sarana transportasi bagi kapal-kapal pengangkut barang dari berbagai pedagang, baik Asia maupun Eropa.
Hingga tahun 1860, kawasan ini kemudian semakin hidup melalui aktivitas perdagangan yang menggunakan alun alun sebagai tempat berdagang.
Pada tahun 1930, di bawah pemerintahan jajahan Belanda dibangunlah Pasar Johar yang bertujuan mengakomodasi perdagangan pada masa itu.
Oleh karena keindahannya pada masa itu, pasar Johar memperoleh julukan sebagai pasar terindah dan terbesar se-Asia Tenggara.
Pasar Johar kemudian semakin berkembang dan menjadi pusat perekonomian di kota Semarang sehingga pada tahun 1970 dibangunlah Pasar Yaik di alun-alun kota untuk mengakomodasi kegiatan pedagang semakin tidak terkendali dan terakomodasi di kawasan ini. (TRIBUNJATENG/Cetak/29 Februari 2016)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/kondisi-terkini-pasar-johar_20150510_090732.jpg)