LIPUTAN KHUSUS
Go-Food Bisa Menjadi Promosi Produk UMKM
Go-Food Bisa Menjadi Promosi Produk UMKM
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Go-Jek meluncurkan layanan jasa pesan antar makanan Go-Food sejak tahun lalu, termasuk di Kota Semarang. Ke depan, Go-Food akan ada di kota-kota besar lain di seluruh Indonesia dan siap bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengembangkan layanan terbaru.
Fitur G-Food memungkinkan pengguna untuk memesan makanan lebih dari 15.000 restoran di sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) saja yang terdapat di dalam 23 kategori, mulai dari warung kaki lima hingga restoran waralaba ala Amerika. Di Semarang pun Go-Food bekerjasama dengan ratusan restoran dan rumah makan.
Dengan didukung banyak armada Go-Jek, pesanan makanan dijamin akan tiba dalam waktu kurang dari 60 menit.
Di dalam aplikasi tersebut, ada fitur near me yang memungkinkan pengguna mencari restoran yang letaknya berada di dekat lokasi si pengguna sehingga membuat waktu pengiriman lebih efisien.
Project Leader Go-Food, Jesayas Ferdinandus, sebelumnya mengatakan layanan Go-Food tidak hanya memberikan kemudahan bagi pengguna tapi juga memberikan kesempatan bagi para pebisnis dalam industri kuliner utuk mengoptimalkan peluang bisnis yang ada. "Ke depan, Go-Food akan lahir di kota-kota besar lain di seluruh Indonesia," katanya, beberapa waktu lalu.
Sementara itu, CEO PT Go-Jek Indonesia Nadiem Makarim mengatakan esensi dari Go-Food, salah satunya, adalah mempromosikan makanan hasil kreasi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). "Misalnya ada makanan yang enak dan kualitasnya bagus seperti karedok atau asinan di pinggir jalan, bisa dipromosikan di Go-Food melalui fitur suggest restaurant, jadi bukan hanya restoran waralaba besar saja yang bisa sukses di sini," kata Nadiem.
Di sisi lain, Go-Food juga bisa mengancam masa depan restoran. Hal itu pernah dikemukakan Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Laksana Tri Handoko.
Menurut Handoko, Go-Food telah menyediakan banyak jenis makanan. Makanan itu tidak hanya yang dipasarkan di restoran mewah, tetapi juga makanan yang biasa dijual di kedai kecil atau malah di pinggir jalan. "Go-Food akan menjadi ancaman buat rumah makan yang high cost. Ancaman luar biasa. Orang tidak akan ke restoran kalau tidak ada tujuan kongko-kongko-nya," jelasnya.
Handoko menuturkan, sifat Go-Food yang membuat mampu bertahan adalah dibutuhkan oleh dua pihak, yaitu konsumen dan produsen. "Kalau ojeknya kan hanya satu pihak," katanya.
Menurut Handoko, Go-Food menjadi model bisnis baru dalam antar jemput sekaligus pemasaran makanan. Kecepatan antar menjadi keunggulan. "Dengan Go-Food, orang bisa masak di rumah untuk dijual. Tinggal daftarkan ke Go-Food. Semua orang, ibu-ibu, bapak-bapak, di rumah bisa jualan," kata Handoko. (tribunjateng/cetak)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/go-food-bisa-jadi-ajang-promosi-produk-umkm_20160418_073408.jpg)