Breaking News:

Ramadan 2016

Pesan Tersirat Ganjel Rel

Ganjel atau ganjal merupakan benda yang disisipkan sebagai tumpuan agar supaya tegak kukuh atau tidak timpang

Penulis: sujarwo | Editor: iswidodo
tribunjateng/rahdyan trijoko pamungkas
Pesan Tersirat Ganjel Rel, saat dibagikan gratis di acara Dugderan menjelang Ramadan 2016 

TRIBUNJATENG.COM - Ganjel atau ganjal merupakan benda yang disisipkan sebagai tumpuan agar supaya tegak kukuh atau tidak timpang. Arti lainnya, benda yang ditaruh sebagai penghalang (penahan) supaya tidak bergerak turun. Ganjel rel berarti benda penahan rel, logam batang untuk landasan jalan kereta api atau kendaraan sejenis seperti trem dan sebagainya.

Lain lagi ganjel rel khusus Semarang, ibukota Jawa Tengah. Orang awan dibikin tertawa. Ganjel rel di sini adalah nama roti. Kuliner jadul khas Semarang ini boleh dikata langka, jarang yang membuatnya. Sesuai namanya, tektur roti ini keras dan ulet. Bantuknya coklat padat, dan di atasnya ditaburi wijen.

Roti itu memang bikin sensasi sendiri, keras-alot tapi mengasyikkan. Sejarahnya, mengutip literatur, roti ini salah satu peninggalan Belanda. Resepnya dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah. Nama aslinya adalah roti gambang, karena bentuknya yang mirip dengan alat musik gambang, tapi masyarakat Semarang lebih suka dengan nama ganjel rel.

Roti ganjel rel selalu menjadi incaran bahkan rebutan masyarakat Semarang. Sebanyak 8.000 potong dibagikan setiap tahunnya, yang dibuat oleh salah satu Takmir Masjid Agung Kauman Semarang saat tradisi Dugderan, festival untuk menandai dimulainya ibadah puasa di bulan Ramadan. Pembagiannya roti ganjel rel diawali oleh RM Tumenggung Aryo Purboningrat yang diperankan oleh Wali Kota Semarang.

Perayaan khas Semarang, Dugderan, ini telah dimulai sejak masa kolonial dan dipusatkan di daerah Simpanglima. Dugderan mulai digelar pada tahun 1881 di bawah Pemerintah Kanjeng Bupari RMTA Purbaningrat. Dialah yang pertama kali memberanikan diri menentukan mulainya hari puasa, yaitu setelah Bedug Masjid Agung dan Meriam di halaman Kabupaten dibunyikan masing-masing tiga kali.

Sebelum membunyikan bedug dan meriam tersebut, diadakan upacara di halaman Kabupaten.
Pada Ramadan 2016, untuk pembuatan kue ganjel rel, Takmir Masjid Agung sebagai pelaksana Dugderan mempercayakan kepada Faishal Aushafi (24). Proses pembuatannya berlangsung di Jalan Giri Mukti No 3 RT 01/RW 23, Perumahan Graha Mukti, Kelurahan Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. "Awalnya ayah saya yang bernama Masjuki yang ditunjuk oleh takmir masjid untuk membuat kue ganjelrel pada 2009. Sekarang, kami yang meneruskannya," ujar Faishal kepada Tribun Jateng, Jumat (3/6).

Ternyata, kue ganjel rel sudah mengalami perubahan. Resepnya menyesuaian selera masa kini, lebih halus dan lunak. "Kue ganjel rel ini sudah banyak perubahan, terutama dari sisi tekstur roti. Sebelumnya ganjelrel ini terkenal seret saat ditelan dan teksturnya kasar. Sekarang tekstur ganjelrel lebih halus, sehingga lebih enak dimakan," papar Faishal.

Sepertinya ada pesan tersirat jika menyimak roti ganjel dan sejarahnya. Roti dengan khas keras dan alot, layak sebagai simbol gigihnya perjuangan generasi zaman dulu dalam segala hal, baik terhadap penjajah, tabah daat menjalankan ibadah puasa, dan lainnya. Jika sekarang roti ini disesuaikan selera zaman, lebih lunak dan halus, moga bukan berarti generasi kekinian lebih “lunak” dalam mensikapi zaman. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved