HEBAT, Peringati Ulang Tahun ke 70 Pernikahannya, Pandji Mengoperasi 910 Penderita Katarak Gratis
HEBAT, Peringati Ulang Tahun ke 70 Pernikahannya, Pandji Mengoperasi 910 Penderita Katarak
Penulis: adi prianggoro | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM - Sejumlah wanita berusia tua terbaring di kasur ruang pascaoperasi di Rumah Sakit Jakarta Jakarta Eye Centre (JEC) Kedoya, Jakarta, Sabtu (23/7). Mereka merupakan pasien yang baru menyelesaikan operasi katarak gratis yang diselenggarakan Gerakan Matahati dan Rumah Sakit JEC.
Baju kamar operasi masih menempel di tubuh. Sebagian dari mereka tampak memejamkan mata. Sebagian lainnya membuka mata.
Suyatmi (60) , seorang pasien asal Kediri, Jawa Timur, itu mengaku dirinya bersama 11 penghuni panti jompo Tresna Weda III Radio Dalam, Jakarta Selatan, ikut dalam operasi gratis ini. Ia menceritakan mengalami katarak pada mata bagian kanan sejak lima tahun lalu.
Ia tidak mengetahui penyebabnya. Ia hanya tahu terkena infeksi bakteri trachoma sejak duduk di bangku kelas 6 SD. Sejumlah kesulitan dialami, di antaranya ketika hendak memasukkan benang ke lubang jarum, membaca tulisan di buku hingga membaca ayat‑ayat Alquran. "Mata yang kanan ini agak buram. Awalnya masih bisa lihat. Tapi, sejak lima tahun lalu, saya sulit melihat tulisan di buku, koran, dan Alquran. Kalau lihat jarak dekat banget baru bisa terbaca," ujarnya.
Suyatmi sesekali menggerakkan dan memejamkan kedua bola matanya. Ia merasa seperti ada benda mengganjal di bagian depan bola mata yang dilakukan tindakan operasi. "Mungkin karena operasi katarak tadi," tuturnya.
Sebagaimana penjelasan dokter, Suyatmi masih optimistis kedua matanya akan kembali normal setelah dilakukan operasi. Ia berharap bisa mengisi hari‑harinya di panti jompo. "Semoga setelah operasi ini saya bisa lancar baca Alquran. Sebelumnya saya bisa baca tapi harus dari jarak dekat sekali dan bola mata saya suka berair. Jadi, bacanya nggak lancar," ucapnya.
PANDJI WISAKSANA

Nenek lainnya, Tri Arwanti (62), warga Kotabumi, Tangerang, Banten, mengaku menderita katarak sejak dua bulan lalu. Itu dikarenakan dirinya sering terjatuh. Ia juga mengaku kepalanya pernah dilempar toples oleh saudaranya. Akibatnya, ia merasakan ada kabut putih pada mata bagian kiri setiap kali melihat objek. Sementara, mata bagian kanannya mengalami minus. "Barang‑barang yang saya ambil sering jatuh karena saat melihat dan hendak mengambil, posisinya selalu nggak pas," ujarnya. Selain itu, Tri juga mengaku kerap kesulitan saat membaca tulisan di buku atau surat kabar.
Tri mengaku bersyukur dan senang pada program operasi katarak gratis untuk warga tidak mampu ini. "Saya tadinya nggak tahu ada operasi katarak gratis. Sejak dua bulan ini saya mengumpulkan uang untuk biaya operasi mata. Baru kumpul Rp 10 juta. Sisanya saya belum tahu dapat dari mana. Lalu saya ke JEC Menteng dan disarankan ikut program operasi gratis ini," ujarnya.
Seharga Rp 10 miliar
Direktur Utama Jakarta Eye Centre (JEC), dr Setiyobudi Riyanto SpM (K) menyatakan, para pasien penderita katarak ditangani secara profesional dan tingkat keamanannya tinggi. Menurutnya, Rumah Sakit JEC menjadi pusat pelayanan kesehatan mata modern dan terlengkap di Indonedia, didukung peralatan medis termutakhir.
Setiyobudi menjelaskan, teknologi yang dipakai pada operasi tersebut yaitu phaco emulsifikasi atau operasi bedah mata minim sayatan. Luka sayatan pada mata hanya 2 milimeter kemudian tim medis memasang lensa baru pada mata.
Pemulihan mata pasien pun lebih cepat. "Ini sangat berbeda bila dibandingkan operasi memakai teknologi lama yang besarnya luka hampir sepertiga kornea," kata Setiyobudi saat kick off operasi mata 910 penderita katarak.
Ia menerangkan, setiap pelaksanaan operasi seorang pasien membutuhkan waktu normal tujuh menit. Namun bila tingkat kataraknya tebal atau terlalu keras, waktu yang dibutuhkan sekitar 15 menit - 20 menit.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/operasi-katarak-canggih-matahati_20160725_084518.jpg)