Liputan Khusus
Ribuan Pekerja Asing Banjiri Jawa Tengah, Ini Alasan Perusahaan Menerimanya
Pekerja asal Tiongkok tidak hanya ada di Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW), Kota Semarang tapi juga Kawasan Industri Candi Semarang.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pekerja asal Tiongkok tidak hanya ada di Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW), Kota Semarang tapi juga Kawasan Industri Candi Semarang. Selain bekerja di industri tekstil, pekerja asal Tiongkok juga bekerja di pabrik elektronik.
Manajemen Representative PT Intech Anugrah Indonesia, Mualim, mengatakan pihaknya saat ini memekerjakan lima tenaga kerja asal Tiongkok di berbagai posisi. "Ada marketing, advisor, quality control hingga tenaga ahli. Alat kami kan dari RRC, jadi perlu alih teknologi," katanya pada Tribun Jateng, pekan lalu. PT Intech beralamat di Jl Gatot Subroto Blok 21, Kawasan Industri Candi (KIC) Ngaliyan, Semarang, merupakan pabrik perakitan netbook, LCD dan TV.
Mualim mengatakan selain tenaga kerja dari Tiongkok, pihaknya juga memekerjakan pekerja asal Korea Selatan. Diakuinya, dibanding pekerja asal Korea Selatan, gaji untuk pekerja asal Tiongkok jauh lebih murah.
Meski begitu, pihaknya tetap memilih pekerja yang kompetensinya bagus. "Kalau tidak ahli ya malah bahaya buat perusahaan kami," katanya.
Durasi kontrak yang disodorkan pada pekerja asal Tiongkok bervariasi. Ada yang satu tahun hingga tiga tahun. Gajinya pun disesuaikan dengan kompetensi mereka. Dibanding mengontrak dalam waktu lama, pihaknya lebih suka kontrak tahunan.
POIN POIN
Perusahaan di Jateng butuh tenaga asing untuk alih teknologi
Tenaga kerja Tiongkok banyak disukai karena murah namun disiplin
Banyak tenaga asing di Semarang duduki level manajer ke atas
Tenaga asing di Pekalongan diduga pekerja kasar dan ilegal
Imigrasi mengaku tak cukup tenaga mengawasi tenaga kerja asing
Mualim menegaskan perusahaannya tetap mengikuti aturan pemerintah dalam perekrutan tenaga kerja asing. Pihaknya selalu memberikan pendamping tenaga lokal agar bisa alih teknologi.Terkait dengan pekerja kelas biasa, pihaknya mengatakan cukup dengan tenaga lokal saja. Pihaknya lebih suka memberdayakan tenaga lokal dibanding tenaga asing.
Andi, sebut saja demikian, pengusaha di Semarang, menambahkan sering menemui pekerja asal Tiongkok di Kendal dan Demak. Namun, pekerja asal Tiongkok itu hanya bekerja dalam durasi yang singkat. Para pekerja asal Tiongkok yang ditemuinya biasanya setingkat teknisi. Mereka muncul di Jateng hanya untuk merakit mesin asal negara mereka yang dibeli pengusaha Indonesia. "Ya kalau pas ngerakit banyak. Kan memang produk mereka. Setelah selesai ya mereka pulang lagi," ujarnya.
Ia menilai, perpindahan beberapa industri ke Jateng juga berpengaruh pada jumlah pekerja asal Tiongkok, khususnya tenaga teknisi. Sebab, para pengusaha membutuhkan teknisi asal RRC untuk merakit mesin produksi mereka yang dipindah.
Setingkat manajer
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pltu-batang-pemagaran-proyek-konstruksi_20160725_073301.jpg)