Keteguhan Hasmi: Komikus yang Setia Pakai Pensil, Kuas, Tinta, dan Kertas Gambar
Bikin dengan pensil dulu, belum berani sket mentah, ketika itu ditinta jadi tinggal menebalkan
"Bikin dengan pensil dulu, belum berani sket mentah, ketika itu ditinta jadi tinggal menebalkan. 10 halaman dengan dua panel, dikuas dengan tinta. Kemudian finishing touch. 48-62 halaman baru diserahkan ke penerbit. Ditambah kover yang full colour," ujar Hasmi.
Meski zaman telah berubah, Hasmi tetap setia dengan proses kreatifnya menggambar komik. Ia tetap menggunakan cara manual dengan tangan, tanpa bantuan gambar komputer.
Walaupun begitu, ia tetap tidak kolot dengan teknologi, ia menganggap teknologi sebagai bagian perkembangan dunia perkomikan.
"Saya harus menyikapi fase tekonologi itu sebagai teman. Kalau saya gaptek, kan bisa minta orang lain yang lebih paham. Kalau membuat komik tetap manual, nanti discan atau kalau ada tambahan suruh orang direkayasa menggunakan komputer," ujarnya.
Hasmi mengakui banyak sekali yang berubah dalam dunia komik. Sekarang sudah banyak sekali muncul bermacam-macam jenis komik, seperti Manga dari Jepang, ataupun komik dari Amerika.
Komik-komik dari luar diakuinya memiliki kualitas gambar yang bagus, karena dalam proses menggambarnya menggunakan alat-alat canggih.
Namun Hasmi tak lanjut patah arang, menurutnya, bukan masalah kalah atau memang kualitas, tetapi kebutuhan dalam berkarya yang lebih mutlak.
"Komik Jepang atau Amerika, ya silakan. Kalau kita kalah, kalah menang itu urusan belakang. Ya berkarya ya tetap berkarya. Yang penting tingkatkan kualitas dan jangan antikritik. Anggap aja macam-macam komik itu kayak suasana karnaval saja lah. Meriah," ujar Hasmi.
Sekarang Hasmi patut berbangga karena, Gundala Putra Petir, salah satu komik buatannya akan diangkat dalam produksi dalam layar lebar oleh sutradara kenamaan tanah air, Hanung Bramantyo.
Hasmi pun ikut andil dalam pembuatan film, menjadi aktor dan berakting sebagai Cameo.
Ditanya suka duka menjadi komikus, Hasmi sedikit sedih karena penghasilan sebagai komikus di Indonesia masih rendah dibanding dengan komikus dari luar negeri.
Tetapi menurut Hasmi, menjadi komikus lebih banyak sukanya. Walaupun penghasilan belum pasti, namun dia berbahagia karena dapat menciptakan suatu karya yang digemari.
"Dari tahun 1969, menjadi komikus, banyak sukanya. Komikus yang sekarang, apalagi aliran manga, aliran manga tidak mengukuhkan komikusnya. Tetapi kalau jaman dulu, eksistensi komikusnya dikukuhkan. Di dalam negeri kurang menjanjikan, di luar negeri bayarannya tinggi. Tetapi saya sudah sangat berbahagia bisa berkarya. Saya akan berkarya sampai akhir nanti," tutur Hasmi.
Selamat jalan, Hasmi! Karyamu akan tetap dikenang sepanjang masa. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/hasmi_20161106_173009.jpg)