Tahun Baru 2017

Harapan dan Sukacita di Tahun Baru

Opini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang

Harapan dan Sukacita di Tahun Baru
tribunjateng/wahyu sulisitiawan
KEREN Malam Tahun Baru 2017 di Waduk Jatibarang Semarang dimeriahkan pesta kembang api, pelepasan lampion dan aneka Kesenian Daerah 

Opini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Kini kita berada di awal tahun 2016. Tentu banyak kenangan indah yang terjadi selama tahun 2016 yang segera kita lalui. Tahun baru selalu membangkitkan pengharapan bagi siapapun yang hendak melaluinya. Tanggal 31 Desember di penghujung tahun seperti memiliki aroma magis yang membius banyak orang untuk gegap gempita merayakan tahun baru. Jalan-jalan penuh dengan pedagang terompet, kafe, hotel, bar, bioskop, mall, menawarkan paket-paket perayaan tahun baru.

Meski dari tahun ke tahun perayaan ini selalu berulang selalu ada model-model pengalaman yang berbeda-beda setiap orang melampauinya. Ada yang melakukan ritual doa malam, sholat malam pergantian tahun, misa kudus, berziarah ke tempat-tempat sakral, bahkan berendam di kali. Membeli kembang api dalam jumlah besar pun tidak masalah karena kenangan di penghujung tahun dan tidak akan berulang. Pendek kata memasuki tahun baru berbagai model perayaan akan dibuat.

Ghalibnya perayaan tahun baru pertama-tama adalah mensyukuri anugerah Tuhan yang telah melindungi selama tahun 2016 silam. Jika kita merenungkan perjalanan selama tahun 2016 banyak monumen-monumen kenangan baik itu berupa prestasi dalam pekerjaan, relasi dengan orang lain maupun juga dalam keluarga dan masyarakat. Ada yang diterima dalam pekerjaan baru, ada yang diangkat dalam jabatan, ada yang menikah, dan segudang capaian lain.

Tahun demi tahun tentu ada perkembangan berarti dalam kehidupan termasuk dalam memenuhi kebutuhan hidup. Abraham Maslow mengajarkan terdapat piramida kebutuhan yang terus meningkat dari kebutuhan yang paling dasar seperti makan, minum, seks hingga kebutuhan akan aktualisasi diri. Setiap tahun harapannya, tahapan pencapaian kebutuhan selalu meningkat dari waktu ke waktu. Idealnya sepanjang tahun seseorang tidak terus hanya berkutat pada masalah-masalah dasar seperti makan, pakaian dan perumahan.

Opini ditulis oleh Paulus Mujiran
Opini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang

Tetapi sudah beranjak pada masalah-masalah aktualisasi diri agar hidup kita kian bermanfaat bagi orang lain. Logikanya setiap tahun selalu ada taraf peningkatan kualitas hidup yang kalau digambar dalam piramida ada tanjakan yang terus naik. Namun tidak jarang juga bahwa harapan selalu naik namun pengalaman justru mundur ke belakang bahkan mengalami jatuh berkeping-keping. Maunya meraih sukses namun yang didapat justru kegagalan total.

Maka aktivitas terpenting dalam menyambut tahun baru adalah melakukan refleksi secara mendalam. Paus Fransiskus mengajak kita semua melakukan refleksi. Ajakan itu bermakna bagi kita untuk dapat melihat kembali ke dalam kedalaman diri kita. Refleksi sama halnya dengan secara jernih melihat ke dalam apa yang telah terjadi baik kelebihan dan kekurangan dengan mata hati yang terbuka. Refleksi melihat kembali ruang batin sepanjang masa lalu dan mengkontemplasikan masa depan.

Refleksi yang biasanya bermakna juga pemeriksaan batin adalah aktivitas untuk menguliti diri kita baik dalam kelemahan dan kekurangan untuk kemudian melakukan perubahan-perubahan yang dirasa perlu di tahun-tahun mendatang. Refleksi tidak bisa dilakukan untuk tujuan instan. Biasanya orang takut melihat ke kedalaman hidup karena akan ditemui banyak kekurangan dan masalah.

Orang takut dihadapkan pada konfrontasi dengan hidup yang sesugguhnya karena dengan cara itu borok-borok dan kelemahan kita akan kelihatan. Momentum menyambut tahun baru adalah melihat energi, sumber harapan dan sumber tenaga pada tahun-tahun mendatang. Ini penting agar dalam memasuki tahun yang baru kita diberi kekuatan untuk memulai sesuatu secara bergairah. Orang harus dapat menggali sumber-sumber energi yang baru dalam memasuki tahun baru.

Energi yang membangkitkan harapan itu seperti cinta dalam keluarga, perasaan berguna bagi orang lain dan masih tersedianya kesempatan menabur benih kebaikan kepada orang lain. Energi itu akan menjadi sumber sukacita dalam memasuki tahun 2017. Tak jarang ketika gairah hidup kita memudar, maka perasaan bahwa diri kita masih mempunyai arti adalah kekuatan untuk terus melanjutkan hidup ini meski terasa berat. Perasaan berguna itu yang menopang kita untuk terus memberikan arti kepada orang lain dan sesama.

Banyak orang dalam memasuki tahun baru memasang target-target tertentu yang harus diraih. Target tetap penting umtuk memacu semangat. Namun tidak jarang pencapaian-pencapaian tidak sesuai dengan kenyataan. Nah, ketika pencapaian tidak sesuai dengan kenyataan kita menjadi frustasi dan putus asa. Lantas menyalahkan orang lain sebagai penyebab kegagalan-kegagalan kita. Pada momentum tahun baru seperti sekarang ini tepatlah melihat kembali sisi hidup dengan segela kelebihan dan kekurangan.

Dan satu hal yang pasti, detik-detik pergantian tahun harus diisi dengan doa mohon rahmat dan berkat Tuhan agar perjalanan hidup kita di masa-masa mendatang senantiasa dapat berjalan dengan lancar. Doa diperlukan agar kita diberikan kekuatan untuk melangkah. Doa diperlukan sebagai sumber kekuatan dan menjadi kawan dalam saat-saat yang berat kelak.

Kita yakin bahwa perjalanan hidup kita tidak akan selamanya berjalan dengan mulus. Banyak godaan yang akan menguji hidup kita. Semoga tahun baru yang sebentar lagi akan kita masuki menjadi kekuatan untuk memulai dan terus memulai menyemai perbuatan baik kepada sesama. Selamat tahun baru 2017. (tribunjateng/cetak)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved