Destinasi Jateng
Menjelajah Pecinan Semarang, Berburu Kuliner dan Sejarah dari Satu Gang ke Gang Lain
Tidak hanya dipenuhi dengan bangunan-bangunan lamanya, ragam kuliner khas juga jadi buruan utama di Pecinan
TRIBUNJATENG.COM - Komplek Pecinan merupakan salah satu kawasan yang menjadi rujukan wisata di Kota Semarang.
Tidak hanya dipenuhi dengan bangunan-bangunan lamanya, ragam kuliner khas juga jadi buruan utama di Pecinan.
Selain wisata, Pecinan juga memiliki kisah historis bagi masyarakat di Kota Semarang. Telah eksis sejak ratusan tahun banyak cerita sejarah yang tertuang disini.
Kawasan yang kini juga menjadi wisata budaya ini berada tidak jauh dari wilayah Kota Lama, Semarang.
Terbentuknya Komplek Pecinan Semarang tidak lepas dari peristiwa pemberontakan warga Tionghoa saat masa kolonial.
Pemberontakan ini diawali di Batavia atau kini Jakarta di tahun 1740. Akibat pemberontakan tersebut banyak warga Tionghoa yang dibawa pihak Belanda ke Semarang.
Pada mulanya bertempat di daerah Gedong Batu, sebelum akhirnya dipindahkan ke lokasi Pecinan saat ini.
“Jadi semacam dilokalisir oleh Belanda, dengan tujuan agar mudah diawasi. Kalau semua dikumpulkan di satu tempat lebih mudah diawasi bila terjadi pemberontakan atau gerakan lagi,” ujar Fauzan, salah satu tour guide dalam kegiatan walking tour yang dilakukan Bersukaria Tour dengan tajuk “Chinatown Walking Tour”, Sabtu (28/1/2017) yang bertepatan dengan Tahun Baru Imlek 2568.
Selain menjadi pemukiman, kawasan ini juga salah satu pusat kegiatan ekonomi. Beberapa lokasi di Pecinan merupakan pasar tradisional seperti Pasar Semawis.
Hingga kini Pasar Semawis menjadi ikon dari Pecinan, Semarang. Festival kuliner tersebut terletak di Jalan Gang Warung.
Gang warung merupakan salah satu gang atau jalan kecil yang berada di Komplek Pecinan. Selain gang warung yang tersohor karena Pasar Semawisnya terdapat banyak gang-gang lainnya.
Seperti Gang Lombok yang jadi sentra kuliner Lumpia pertama di Semarang. lalu ada Gang Pinggir yang lokasinya berdekatan dengan sungai, Gang Cilik, Gang Gambiran dan Gang Baru dengan pasar tradisionalnya.
Fauzan menuturkan pada zaman dahulu di Gang Baru justru banyak dipenuhi pedagang-pedagang yang bukan berasal dari etnis tionghoa melainkan dari jawa.
“Hal ini dilakukan karena saat itu etnis Tionghoa dalam pengawasan ketat pemerintahan Belanda, sehingga keberadaan pedagang-pedagang non Tionghoa dirasa melindungi mereka” tutur Fauzan.
Terdapat kisah tersendiri terkait penamaan gang-gang tersebut, seperti gang lombok yang konon nama tersebut diambil karena pada zaman dulu di wilayahnya banyak ditanami kebun cabai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/salah-satu-kelenteng-di-kawasan-pecinan-semarang_20170130_124439.jpg)