Rendah Budaya Literasi Bikin Masyakat Gampang Percaya Berita Hoax
Seminar itu digelar memeringati Hari Pers Nasional, tiap tanggal 9 Febuari. Ada tiga pembicara yang mengisi acara tersebut.
Penulis: Daniel Ari Purnomo | Editor: galih pujo asmoro
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Forum Komunikasi Wartawan Kabupaten Semarang (FKWKS) bersama Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) menyelenggarakan seminar Cerdas Sehat Bermedia Sosial di Pendopo Rumah Dinas Bupati Semarang, Sidomulyo, Ungaran Timur, Sabtu (4/2/2017) siang.
Seminar itu digelar memeringati Hari Pers Nasional, tiap tanggal 9 Febuari.
Ada tiga pembicara yang mengisi acara tersebut.
Masing-masing Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Septiaji Eko Nugroho; Blogger, Dewi Rieka Kustiantari; dan Jurnalis media cetak, Bowo Pribadi.
Sedangkan moderator seminar adalah aktivis Komunitas Semarang Raya Anti Hoax, Farid Zamroni.
Mereka berkolaborasi memaparkan pemahaman fenomena hoax, sesuai bidangnya.
Bowo Pribadi menyampaikan ketidakbenaran informasi bisa berupa visual, tekstual dan lisan.
Bowo menyoroti pemanipulasian foto perempuan berhijab sedang berswafoto dengan latar belakang pelaku aksi teror di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Foto tersebut ternyata gabungan dari dua frame yang sudah diolah secara digital menjadi satu frame.
"Dalam dunia fotografi jurnalistik, visual itu merupakan kebohongan. Pengolah gambar bisa," ujarnya.
Sesi selanjutnya, Septiaji membahas budaya literasi masyarakat di Indonesia peringkat kedua dari bawah.
Maraknya penyebaran berita tak sesuai fakta atau hoax, dilatarbelakangi rendahnya budaya literasi.
Dikatakannya, kebanyakan netizen jarang melakukan klarifikasi berita.
Semua informasi, fakta maupun fiksi, ditelan secara mentah sebagai fakta terpercaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/seminar-berita-hoax-di-ungaran_20170204_171200.jpg)