Liputan Khusus
Kisah Pemain Klub Sepakbola Amatir Pun Rela Nyambi Jadi Petani
Subur, pengurus Persikama Kabupaten Magelang, mengungkapkan perjuangan klub agar bisa bertahan.
Ia bercerita, pada waktu muda tergiur menjadi pemain sepakbola. Alasannya, ia tahu nilai kontrak pemain sepakbola profesional sangat besar hingga ratusan juta rupiah. Akhirnya, ia mencoba berkarier di sepakbola.
Pada 2010, ketika berusia 21 tahun, Wantono ikut seleksi di Persipur Purwodadi. Ia pun lolos dan mendapat gaji Rp 2,5 juta per bulan kala itu. Bagi pemain sepakbola amatir seperti dirinya, memilih klub amatir tidak boleh sembarangan. Gaji lumayan bisa didapat jika masuk tim yang punya target juara.
"Kalau tim punya target tinggi pasti dananya banyak dan pemain yang dibutuhkan juga banyak," katanya.
Setahun di Purwodadi, Wantono pulang ke kampung halamannya di Blora, bergabung Persekaba Blora. Sejak 2011 hingga 2014, ia menjadi pemain bergaji Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.
Mendapat gaji hanya tiga bulan selama kompetisi berlangsung menjadi hal biasa bagi pesepakbola amatir. Bahkan ada pemain di klub amatir yang mendapat upah ala tarkam.
"Bayarnya per pertandingan, kalau tidak main ya tidak bayaran. Kalau bisa tiga bulan bagus, lha kalau langsung kalah di pertandingan pertama?" ceritanya.
Selama menjadi pesepakbola amatir, ia juga menjadi guru sebuah Madrasah Tsanawiyah. Penghasilan utamanya justru dari guru. "Banyak pemain Persekaba yang punya profesi lain semisal buruh tani, pemilik toko olahraga dan guru seperti saya," ujarnya.
Konflik antarpengurus PSSI pada medio 2014, membuatnya berpikir ulang berkarier di sepakbola sebagai pemain. Sejak 2013 hingga 2015 ia mengambil kursus wasit tingkat kabupaten. Lalu, sejak 2015, ia juga mengambil kursus kepelatihan. Saat ini, ia memilih menjadi sekretaris Persekaba Blora.
Lebih enak menjadi pemain atau pengurus klub? Wantono lagi-lagi tertawa. Menurutnya, sejak menjadi pengurus klub ia justru sering tombok. Terutama ketika mengadakan rapat. "Kalau jadi pemain enak, main terus dibayar. Kalau pengurus klub sepakbola kebanyakan tombok, dimanapun," ujarnya.
Ia berharap persepakbolaan Indonesia semakin baik dan bisa menjamin masa depan pemainnya. Sebab, olahraga sejuta umat tersebut dijadikan ladang nafkah ribuan orang mulai dari tingkat amatir hingga profesional.(tim)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/panen-demak_20170124_182852.jpg)