Tribun Community
Komunitas Diajeng Semarang Angkat Kembali Kebiasaan Berkebaya
Kebaya warna-warni terlihat di satu sudut meja di Blackbone Cafe, sebuah tempat makan di Banyumanik, Jumat (10/3).
Penulis: faisal affan | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Kebaya warna-warni terlihat di satu sudut meja di Blackbone Cafe, sebuah tempat makan di Banyumanik, Jumat (10/3).
Beberapa di antara mereka adalah Maya Diana Kusuma Dewi (42). Mengenakan kebaya kutubaru oranye dengan bawahan kain batik warna gelap. Ia datang bersama Shita yang juga mengenakan kebaya merah muda.
Mereka ini adalah anggota Komunitas Diajeng Semarang (KDS), sekumpulan pecinta kebaya dan batik serta mengampanyekan pemakaiannya dalam aktivitas keseharian.
"Siapa bilang pakai kebaya ribet. Saya cuma butuh lima menit untuk memakainya. Harganya pun tidak lebih dari Rp 100 ribu," terang Maya, yang juga Ketua KDS.
Maya mengatakan, komunitas ini memang berupaya mengangkat pakaian kebaya untuk pemakaian sehari-hari. Dengan membiasakan mengenakan kebaya, ia berharap model pakaian tradisional ini tidak lekang termakan zaman.
"Saat ini kita melihat orang mengenakan busana kebaya dan batik hanya pada saat acara-acara seremonial tertentu. Padahal, zaman dulu, kebaya dan batik adalah pakaian sehari-hari perempuan Jawa," katanya.
Ia pun tidak menampik tren fashion modern, menjadikan busana kasual menjadi pilihan kebanyakan orang.
"Busana kasual memang lebih dipandang sebagai hal yang praktis. Untuk pemakaian kebaya ini sebenarnya bisa dimodifikasi untuk menunjang aktivitas sehari-hari, termasuk sebagai pakaian kerja," terangnya.
Ia pun berharap makin banyak perempuan yang mengenakan kebaya di tempat umum, tanpa rasa malu. Apalagi kini mudah ditemukan kebaya modifikasi, tanpa kehilangan nuansa tradisionalnya.
"Berbusana kebaya sekarang ini tidak selalu harus pakem seperti pada zaman dahulu. Pengaruh fashion, menjadikan busana kebaya juga mengikuti tren mode," tuturnya.
Keberadaan KDS ini mulai resmi pada Minggu (5/3) lalu dengan dilakukan pelantikan para pengurus di @Hom Hotel, Jl Pandanaran No 119, Semarang. Pelantikan tersebut juga dihadiri Wali Kota Hendrar Prihadi serta Ketua Tim Penggerak PKK Kota Semarang Krisseptiana Hendrarprihadi.
Untuk menyebarluaskan inforamsi KDS, dibuatlah grup Facebook Komunitas Diajeng Semarang dan grup Whatsapp. Isinya, antara lain berbagi informasi kegiatan anggota komunitas serta foto-foto anggota saat sedang berkebaya.
Mahita Dian Ratnasari (41), anggota komunitas mengatakan, ia menyukai kebaya karena terlihat lebih feminin dan anggun. Sebelum bergabung dengan KDS, Dian tidak memiliki kepercayaan diri dalam menggunakannya untuk kegiatan sehari-harinya.
"Padahal saya punya koleksi kebaya 20 potong. Dengan bergabung kDS, saya bisa lebih berekspresi mengenakan kebaya," paparnya.
Hartati Tri Arini (52) merasakan manfaat ikut bergabung dengan KDS. "Saya bisa belajar mengkreasikan macam-macam model pakaian kebaya, lengkap dengan kain batik," kata Tati, yang memiliki usaha toko batik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/diajeng-semarang_20170311_103116.jpg)