MISTERI Pohon Asem di Depan Pasar Peterongan Semarang, Sering Dipakai Ritual dan Ziarah
Tradisi ziarah di lokasi itu masih rutin digelar. Setiap 10 Suro bahkan ada tradisi gebyuran.
Penulis: galih permadi | Editor: abduh imanulhaq
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Semerbak wangi kemenyan menyeruak di sekitar pohon asem (Tamarindus indica) di depan Pasar Peterongan, Semarang.
Sebuah gerabah ditempatkan pada sudut "pot" pohon tersebut sebagai tempat sesajen, Senin (13/3/2017).
Di sekitarnya bertebaran bunga mawar merah dan putih.
Di balik hiruk pikuk Pasar Peterongan, memang terdapat sebuah pohon asem berusia ratusan tahun.
Pedagang dan warga sekitar menganggapnya sakral.
Pohon itu merupakan sebuah punden yang dikenal sebagai punden Mbah Gosang.
Nama Gosang berasal dari buah pohon asem tersebut yang tak memiliki biji seperti buah asem lain.
Seorang pedagang, Cokro, menyebutkan pohon itu berkali-kali akan dirobohkan.
Namun, orang yang akan menebang mendadak jatuh sakit dan meninggal.
"Cerita keramat turun temurun seperti itu. Jadi banyak yang percaya pohon asem itu pohon sakral. Mbah Gosang menurut cerita yang pertama kali menanam pohon itu," ujar Cokro.
Tradisi ziarah di lokasi itu masih rutin digelar
Setiap 10 Suro bahkan ada tradisi gebyuran.
Jadi pada tanggal tersebut, para pedagang menggelar selamatan.
Beberapa tetek bengek ritual pun disiapkan antara lain air, kemenyan, dan bunga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pasar-peterongan_20170313_205421.jpg)