Jumat, 17 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ramadan 2017

Sudah Jadi Even Nasional, Para Fotografer Hobbies Berburu Momen Tradisi Dugderan

Tarian Dugder membuka perhelatan tradisi Dugderan jelang Puasa Ramadan di halaman Balai Kota Semarang

Penulis: galih permadi | Editor: muslimah
Tribun Jateng/Galih Permadi
Dugderan 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tarian Dugder membuka perhelatan tradisi Dugderan jelang Puasa Ramadan di halaman Balai Kota Semarang.

Puluhan wartawan dan para fotografer hobbies tak henti-hentinya membidikkan kamera seakan tak ingin kehilangan momen aksi para penari.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi lantas memimpin upacara sebelum memberangkatkan para peserta. Siang kemarin, Hendi, sapaan Hendrar Prihadi, didapuk berperan menjadi Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat.

Hendrar Prihadi
Hendrar Prihadi (Tribun Jateng/Galih Permadi)

Keberangkatan rombongan ditandai dengan pemukulan bedug oleh Hendi. Rombongan karnaval diawali dengan atraksi puluhan taruna Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang.

Selanjutnya diikuti rombongan yang menampilkan keberagaman mulai pakaian adat, barongsai, hingga reog.

Rombongan Bupati RMTA Purbaningrat berada di bagian belakang dengan menaiki kereta kencana diikuti bendi hias yang ditumpangi para pejabat dan anggota DPRD. Di sepanjang perjalanan menuju Masjid Kauman, Hendi disambut warga.

dugderan
dugderan (Tribun Jateng/Galih Permadi)

Upacara tradisi Dugderan sudah dilakukan sejak 1881 kala Semarang dipimpin oleh Bupati RMTA Purbaningrat.

Dahulu, upacara ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat dalam masyarakat mengenai awal dimulainya puasa Ramadan.

Kemudian dicapai kesepakatan untuk menyamakan persepsi masyarakat dalam menentukan awal Ramadan dengan menabuh bedug di Masjid Agung Kauman dan meriam di halaman kabupaten dan dibunyikan masing-masing tiga kali dan dilanjutkan dengan pengumuman awal puasa di masjid.

Sesampainya di perempatan jalan menuju Masjid Kauman rombongan disambut dengan berbagai kesenian. Prosesi utama karnaval dugder adalah penyerahan Suhuf Halaqoh dari alim ulama Masjid Kauman kepada RMTA Purbaningrat untuk dibacakan kepada seluruh warga Kota Semarang.

"Dug...dug...dug..." suara bedug yang ditabuh Wali Kota Semarang disertai suara meriam. Suara bedug dan meriam tersebut menjadi asal mula kata Dugderan. Sebelum meninggalkan prosesi Masjid Kauman,

Walikota membagikan makanan Ganjel Rel serta air khataman Al- Quran kepada warga.

Makna dari makanan Ganjel Rel adalah bahwa manusia menjelang puasa ini harus bisa menata hati, hal-hal yang merasa ngganjel (perbuatan jelek) harus direlakan dan ditinggalkan. Selain itu, supaya hati bersih maka diberi minuman air bersih yaitu air khataman Al-Quran.

Selanjutnya, Walikota beserta rombongan menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Di sana, diserahkan RMTA Purbaningrat menyerahkan Suhuf Halaqoh kepada Raden Mas Tumenggung Probohadikusuma yang diperankan oleh Sekda Provinsi Jawa Tengah, Sri Puryono, untuk diumumkan kepada seluruh warga Jawa Tengah.

dugderan
dugderan (Tribun Jateng/Galih Permadi)
Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved