Sabtu, 11 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Sembari Menangis Sesegukan, Gus Mus Sitir Hadis Cukup Kematian Jadi Nasihat

Demikian ungkapan pertama yang disampaikan KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab dipanggil Gus Mus menyitir hadis Nabi Muhammad SAW

KOMPAS.com/SABRINA ASRIL
Gus Mus 

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN Wa Kafaa Bil Mauti Wa Idzho.

Sudah cukup kematian ini sebagai nasihat.

Demikian ungkapan pertama yang disampaikan KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab dipanggil Gus Mus menyitir hadis Nabi Muhammad SAW saat diberikan kesempatan untuk menyampaikan mauidloh hasanah atau tausiyah dalam upacara pemberangkatan jenazah Mustayar PBNU KH Mahfudz Ridwan di Ponpes Edi Mancoro, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Senin (29/5/2017).

Menurut Gus Mus, sebenarnya tidak perlu ada tausiyah jika sudah ada nasihat dari sebuah kematian.

"Sebab kalau dinasihati dengan kematian saja tidak mendal (mempan), dinasihati oleh ustaz, mubaligh tambah tidak mempan," ucapnya.

Dalam kesempatan itu Gus Mus bercerita mengenai sosok Kiai Mahfudz yang belum diketahui oleh masyarakat Indonesia.

Menurut pengasuh Ponpes Raudhatut Thalibin Lateh, Rembang ini, Kiai Mahfudz bukanlah tokoh sembarangan.

Ia menceritakan, setiap kali KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur harus bersikap dan mengeluarkan keputusan-keputusan penting, Gus Dur selalu menyatakan dirinya menunggu nasihat dari para Kiai-kiai Khos (khusus).

Gus Mus meyakini berdasarkan penelaahan dan analisisnya, kiai-kiai Khos di sekeliling Gus Dur itu satu di antaranya adalah Kiai Mahfudz.

"Beliau ini tidak main-main," katanya.

"Setelah saya menganalisis dan sebagainya, satu di antaranya (kiai khos) adalah Kiai Mahfudz Ridwan ini. Karena beliau ini yang selalu ngemong Gus Dur sejak masih belajar di Irak," tambahnya.

Sosok Kiai Mahfudz ini, kata Gus Mus, merupakan tipologi kiai yang estu (tulen, sesungguhnya).

Kiai yang sa'estu, katanya, adalah kiai yang melihat umat dengan mata kasih sayang. 

Kiai Mahfidz sebut dia, selalu mengemong dan mengayomi umat dari agama apapun.

"Lihatlah yang takziah beliau berasal dari berbagai lapisan, karena mereka merasa pernah diayomi," ucapnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved