Senin, 13 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Bertekad Hancurkan Marawi untuk Tumpas Teroris ISIS, Presiden Filipina Duterte Minta Maaf

Presiden Filipina Rodrigo Duterte nyatakan kebulatan tekad menghancurkan Marawi. Tujuannya, menumpas teroris yang berkiblat ke ISIS di wilayah itu.

Editor: rika irawati
AFP/TED ALJIBE
Presiden Rodrigo Duterte menghibur istri seorang personel marinir yang gugur dalam pertempuran di Marawi menghadapi militan Maute. Sejauh ini, sudah 58 tentara Filipina tewas dalam baku tembak di Marawi. 

TRIBUNJATENG.COM, ILIGAN - Presiden Filipina Rodrigo Duterte meminta maaf karena terpaksa melakukan serangan militer ke Kota Marawi, hingga kota berpenduduk mayoritas muslim itu menjadi reruntuhan.

Duterte mengaku, tindakan itu harus dilakukan demi menghancurkan kelompok teroris yang mengaku berkiblat ke gerombolan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), yang bersarang di sana.

Selain itu, Duterte juga meyebut, serangan udara yang didukung Amerika Serikat di Marawi akan berlanjut.

Sebab, konflik di wilayah selatan negara itu sudah memasuki minggu kelima, tanpa tanda akan berakhir. Selain itu, jumlah korban pun dilaporkan telah bertambah hingga 370 orang.

"Saya sangat, sangat, sangat menyesal bahwa ini terjadi. Semoga Anda akan segera menemukan kata maaf di dalam hati Anda untuk tentara dan pemerintahan saya, dan bahkan untuk saya."

Demikian kalimat yang meluncur dari mulut Duterte dalam sebuah pidato di sebuah pusat evakuasi di Iligan, di dekat Kota Marawi, Selasa (20/6/2017).

Iligan menjadi tempat penampungan bagi warga sipil yang berhasil melarikan diri dari kepungan teroris di Marawi.

Pertempuran itu telah mengubah wajah Marawi dari pusat perdagangan yang ramai menjadi kota yang mirip wilayah perang di Irak atau Suriah.

Konflik ini berawal saat ratusan anggota teroris melambai-lambaikan bendera hitam ISIS, dan mulai mengamuk di Marawi pada 23 Mei lalu.

Mereka mulai membakar kota dan menyandera warga-warga sipil, terutama yang beragama Kristen.

Tak lama berselang, Duterte segera memberlakukan darurat militer di seluruh wilayah selatan Mindanao.

Dia meyakini, serangan tersebut merupakan awal dari sebuah usaha ISIS untuk menetapkan kekhalifahan di Filipina.

Militer Filipina pun diterjunkan dengan pesawat dan helikopter untuk meledakkan posisi musuh.

Sementara, AS memberikan bantuan dalam serangan udara yang dilakukan dengan risiko menghantam warga sipil dan tentara Filipina sendiri.

Pengeboman tersebut terjadi, setelah para teroris tetap bersembunyi dengan berlindung di ruang-ruang bawah tanah anti-bom dan bergerak melalui terowongan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved