Aplikasi Jelajah Beri Informasi Lokasi Wisata Cagar Budaya
Connecting History Around You. Satu kalimat tersebut adalah tagline yang dibuat oleh Muhammad Mirza (23), untuk aplikasi besutannya JELAJAH
Penulis: faisal affan | Editor: iswidodo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Connecting History Around You. Satu kalimat tersebut adalah tagline yang dibuat oleh Muhammad Mirza (23), untuk aplikasi besutannya yang diberi nama Jelajah.
Memiliki harapan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya suatu bentuk sejarah, merupakan tujuan Mirza dalam mewujudkan aplikasi ini. Pemuda asal Kabupaten Batang ini, juga merasa resah akan kurangnya perhatian masyarakat terhadap bentuk sejarah, terutama dalam bentuk suatu bangunan.
"Banyak orang berkunjung ke Lawangsewu, Tugu Muda, dan Kota Lama. Namun tujuan terbesar mereka hanya untuk bisa berswafoto atau selfie, dengan latar belakangnya bangunan tersebut. Belum banyak yang begitu ingin tahu tentang sejarah sebuah bangunan tersebut," tegas mahasiswa Udinus Semarang, kepada Tribun Jateng, beberapa waktu lalu.
Mirza menilai degradasi kesadaran untuk mengapresiasi suatu sejarah bangsa semakin bertambah. Dia ingin masyarakat tidak melupakan sejarah masa lalu, yang sudah membentuk bangsa Indonesia sedemikian rupa.
Awal mula tercetus ide ingin membuat aplikasi Jelajah ini, akibat rasa ingin tahunya akan suatu bentuk bangunan bersejarah yang ada di Kota Bandung, Jawa Barat. Saat itu, Mirza masih magang di suatu perusahaan di Jakarta. Setelah masa magangnya selesai dan kembali ke Semarang, ia iseng membuat aplikasi ini, yang sebenarnya tidak begitu ia fokuskan.
"Saya awalnya hanya iseng, karena saya tidak begitu fokus dengan aplikasi Jelajah ini. Namun berjalannya waktu, saya menemukan problem solving dalam aplikasi ini. Akhirnya, saya juga membuat penelitian skripsi tentang kaitannya aplikasi sejarah dengan gamifikasi (penggunaan dari teknik desain permainan, permainan berpikir, dan permainan mekanik untuk meningkatkan non-game konteks)," jelasnya.
Fitur level
Dalam aplikasi Jelajah ini, Mirza memiliki tanggungjawab sebagai developer, untuk bisa memotivasi user agar terus mau mengulik tempat-tempat bersejarah. Maka dari itu, Mirza menyematkan fitur level dalam setiap tempat bersejarah yang didatangi user, dan mau mengulas pengalaman perjalanannya. Level 1 akan meningkat ke level 2 apabila user telah melebihi angka 400 experience.
"Experience bisa didapatkan apabila user mau berinteraksi dengan aplikasi. Misalnya, mengulas tempat bersejarah, berfoto, ambil video yang kesemuanya bisa diposting di aplikasi Jelajah. Bila ada kekeliruan alamat maupun deskripsi tentang tempat bersejarah, user juga bisa mengubahnya, namun tentunya dengan diverifikasi terlebih dahulu," kelakar mahasiswa jurusan Teknik Informatika ini.
Untuk menemukan agar user mau terus berinteraksi dengan aplikasi Jelajah, dan lebih banyak mengunjungi tempat-tempat bersejarah, Mirza melakukan riset selama tiga bulan di akhir tahun 2013. Dalam risetnya, Mirza akhirnya memasukkan konten gamifikasi dalam aplikasi Jelajah.
Aplikasi Jelajah ini sudah tersedia di Playstore sejak 15 April 2017, dan bertepatan dengan ulang tahun Kota Semarang sekaligus sebagai kado. Menggunakan nama pengembang Clorus, Mirza mengaku memiliki filosofi tersendiri.
"Clorus berasal dari kata clorofil atau zat hijau daun. Kita tahu bahwa daun merupakan bagian dari rantai makanan terendah di bumi. Bayangkan apabila tidak ada daun atau tumbuhan, apakah manusia dan hewan masih bisa hidup? Maka dari itu, saya ingin aplikasi-aplikasi yang saya buat bisa bermanfaat untuk orang banyak," ucapnya.
Cara Kerja
Cara kerja aplikasi Jelajah ini yakni, user hanya cukup mendaftar dengan memasukkan alamat email, nomor ponsel, nama depan, dan nama belakang. Saat sudah masuk, pengguna bisa memilih tab home yang berisi beberapa tempat bersejarah, yang berjarak maksimal 50 km dari posisi pengguna. Dan tab timeline, digunakan untuk memposting tempat bersejarah yang sedang dikunjungi.
Aplikasi Jelajah ini bisa digunakan di seluruh dunia, namun Mirza mengaku hanya ingin fokus di kota-kota besar yang ada di Indonesia. Data tempat bersejarah yang didapatkan Mirza dilakukan dengan cara crawling. Yakni mengumpulkan database dari dunia maya sebanyak-banyaknya, lalu kemudian disaring menjadi beberapa tempat yang sudah terverifikasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/aplikasi-jelajah-buatan-mirza-mahasiswa-udinus_20170704_113759.jpg)