Andalkan Berjualan Pisang Roll, Rumiyatun Mampu Kuliahkan Ketiga Anaknya hingga Lulus
Penjual pisang roll ini mengaku sempat tak sanggup jika harus membiayai pendidikan anaknya jika melanjutkan kuliah.
Penulis: Nur Rochmah | Editor: bakti buwono budiasto
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Nur Rochmah
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Memberikan kesempatan ketiga buah buah hati untuk mengenyam pendidikan hingga ke jenjang Sarjana dan masuk di sebuah Universitas bagi Rumiyatun (51), tak pernah terpikirkan sebelumnya apalagi merencanakan jauh-jauh hari.
Bagi Rumiyatun dan suaminya Heri Suyanto (50), yang saat ini hanya berprofesi sebagai penjual pisang roll, mengaku sempat tak sanggup jika harus membiayai pendidikan anaknya jika melanjutkan kuliah.
"Jujur saya tidak sanggup jika harus membayar biaya uang kuliah ketiga anak saya. Tapi beruntung saja, kedua putri saya diterima masuk kuliah di Universitas Diponegoro (Undip), melalui jalur undangan dan mendapat beasiswa dari Bidik Misi. Sedangkan putra saya satu-satunya saat ini melanjutkan kuliah di Universitas Semarang (USM) dengan biaya sendiri dari hasil uang dia kerja," ungkap Rumiyatun saat dijumpai Tribun Jateng di rumahnya yang beralamat di Jalan Medoho Raya II RT 03 RW 03, Semarang, pada Jumat (7/7/2017).
Ia menceritakan, putri pertamanya yang bernama Ismi Simpang Anggia (23), masuk kuliah diterima di jurusan Kimia Undip pada tahun 2012 dan sudah lulus pada Agustus 2016 lalu, dengan meraih IPK 3,49.
Biaya kuliah selama empat tahun semuanya mendapat sokongan dari Beasiswa Bidik Misi yang diterimanya.
Dan sekarang sudah bekerja di PT Kayu Lapis Indonesia, Kendal.
Sementara, putra keduanya Umbu Landu Paranggi (21), kini tengah melanjutkan studinya di Jurusan Teknik Sipil USM dengan biaya sendiri dari gaji jerih payahnya.
Putri sulungnya, Raisi Aga Oktavi (19), saat ini sedang menempuh pendidikan di Jurusan Kimia Undip.
Raisi lolos seleksi undangan SNMPTN tahun lalu dan mendapatkan beasiswa Bidik Misi.
"Semasa sekolah dulu ketiga anak saya nggak ada yang pernah saya ikutan Bimbel atau les di luar. Karena biayanya kan bisa sampai jutaan, saya nggak sanggup bayarnya. Jadi mereka semua belajar ya mandiri di rumah aja," pungkasnya.
Awalnya, Rumiyatun hanya berjualan kecil-kecil an di depan Sekolah Dasar (SD) dekat rumahnya dan dibantu putri pertamanya.
"Selang waktu berjalan, karena biaya kebutuhan yang semakin banyak, yakni untuk biaya sehari-hari, biaya pendidikan ketiga anak kami dan kebutuhan yang mendesak lainnya. Akhirnya, kami memutuskan untuk membuat pisang roll yang kemudian pemasarannya dititipkan di pasar-pasar," imbuh Heri.
Rumiyatun dan Heri sudah menjalankan profesi sebagai penjual pisang roll ini selama delapan tahun.
Modal awalnya hanya sekitar Rp 50 ribu untuk biaya produksinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/rumiyatun-sedang-membuat-kulit-pisang-roll_20170707_103236.jpg)