Sabtu, 2 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

OPINI

Dana Pihak Ketiga Perbankan

Kelangsungan hidup perbankan tidak bisa lepas dari dana pihak ketiga (DPK). Juga maju mundurnya perbankan tergantung dari DPK yang dimilikinya

Tayang:
Editor: bakti buwono budiasto
TRIBUN JATENG/GRAFIS/BRAM
Widyo Hari Cahyono 

Berjalannya waktu dan semakin membaiknya kondisi perbankan kita saat ini serta meningkatnya kinerja perbankan perang suku bunga antar bank sudah tidak terjadi lagi.

Kondisi ini bisa kita lihat dengan beberapa indikator yang menunjukkan perbaikan dalam kinerja perbankan kita.

Untuk bulan Februari 2017 DPK tumbuh 9,2 %, rasio kecukupan modal ( capital adequacy ratio/CAR) tercatat 23,18 % di atas ketentuan pada level 8%.

Sedangkan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) sebesar 5,28 % yang tercatat sebagai NIM industry tertinggi di kawasan ASEAN, rasio biaya operasional (BOPO) menurun dari sekitar 83% pada Februari 2017.

Ini menyunjukkan bank-bank di dalam negeri semakin efisien.

Indikator lainnya seperti rasio kredit terhadap dana simpanan (loan to deposit ratio/LDR) bearada pada angka 89 %.

DPK yang Fluktuatif

Turunnya DPK dikarenakan pertama, suku bunga perbankan dipandang sudah tidak menarik lagi.

Tidak menariknya suku bunga perbankan tentunya akan memicu masyarakat untuk tidak lagi tertarik menempatkan dananya ke bank.

Juga karena masyarakat lebih tertarik kepada produk-produk di luar perbankan seperti saham, emas atau reksadana yang juga akan memberikan imbal hasil (return) yang tidak kalah bersaing dengan produk-produk perbankan.

Kedua, belum banyaknya masyarakat yang mengenal produk-produk perbankan karena program inklusi keuangan yang bertujuan menyasar akar rumput agar mengenal produk perbankan seperti tabungan, transfer belum menyentuh sampai kepada masyarakat ke bawah.

Kondisi ini memang membuat masyarakat tidak tahu harus dibawa kemana dana yang mereka miliki.

Ketika masyarakat tidak tahu harus disimpan dimana uang yang mereka miliki jalan pintas pun mereka ambil dengan menyimpan uang mereka di rumah dengan memasukkan uanngya di tabungan dari tanah liat atau kalau perlu menyimpannya di bawah bantal.

Hal ini disebabkan belum adanya edukasi yang maksimal kepada masyarakat melalui inklusi keuangan.

Meningkatnya DPK bisa juga dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga di bank-bank sedangkan imbal hasil produk investasi lain mengalami penurunan. Kondisi ini membuat masyarakat ramai-ramai menempatkan dananya di bank.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved