Success Story
Bertekad Jadi Pengusaha, Martha Fany Wibowo Keluar dari Pekerjaan Lalu Buka Resto
Fany mulai meneguhkan hati menjadi pengusaha kuliner. Kini, sudah ada 20 pegawai yang ikut serta dalam mengembangkan Cafe and Resto Londo Jowo
Penulis: raka f pujangga | Editor: bakti buwono budiasto
TRIBUNJATENG.COM - Menjadi pengusaha di bidang kuliner sudah menjadi impian sejak lama bagi wanita yang memiliki tiga orang anak, Martha Fany Wibowo.
Setelah memiliki modal yang cukup dari hasil bekerja sebagai pegawai di sebuah perusahaan asuransi swasta, Fany mulai meneguhkan hati menjadi pengusaha kuliner.
Kini, sudah ada 20 pegawai yang ikut serta dalam mengembangkan Cafe and Resto Londo Jowo yang berada di Ungaran, Kabupaten Semarang.
Di tengah kesibukannya mengembangkan Cafe and Resto Londo Jowo, ia mengaku tak pernah lupa untuknya menghabiskan waktu bersama keluarga, meski hanya sekedar jalan-jalan dan renang di sekitar Ungaran.
Setiap harinya, sedikitnya tiga jam dari pukul 15.00-18.00 selalu dipakai untuk bermain dengan ketiga anaknya.
Berikut petikan wawancara wartawan Tribun Jateng, Raka F Pujangga dengan Martha Fany Wibowo, baru-baru ini :
Bagaimana cerita awalnya mendirikan Londo Jowo?
Pada awalnya saya seorang pegawai swasta yg bergerak di bidang asuransi. Saya bersama suami memang mempunyai cita-cita untuk buka usaha di bidang kuliner sejak kami masih sebagai karyawan.
Saat dirasa sudah punya cukup modal untuk mendirikan usaha dari hasil kerja, kami berdua memutuskan untuk berhenti bekerja dan membuat usaha sendiri.
Tahun 2013 setelah anak pertama saya (Jean) lahir saya sdh memutuskan utk mundur dari status saya sebagai karyawan, meskipun saat itu blm punya usaha sendiri.
Setelah keluar kerja kami observasi dan mulai bergerak untuk belajar bisnis kuliner dan mencari konsep dan lokasi untuk usaha kami.
Ternyata merencanakan usaha tidak mudah, berbagai pemikiran, ide dan adu argumen bersama suami seringkali belum bisa memantapkan langkah kami memulai usaha.
Karena usaha yang akan kami jalankan tersebut ibarat perjudian dalam hidup kami, jika berhasil kami bisa hidup lebih baik. Kalau gagal berarti kami kerja bertahun-tahun akan hilang begitu saja hasilnya, makanya kami bener hati-hati.
Ada yang unik kenapa namanya Londo Jowo, karena saya dan suami mempunyai selera menu yang berbeda.
Setiap mau cari tempat makan pasti ada debat menentukan makan di mana dan menu apa. Karena suami lebih suka makanan tradisional , sedangkan saya lebih suka menu western.
Karena ibu saya usaha katering untuk wedding yang spesialisasinya makanan tradisional jadi agak bosan menu tradisional.
Singkat cerita padsa waktu mau makan saya sama suami debat seperti biasanya. Solusinya kita cari tempat makanan yang banyak varian menunya seperti pujasera di mal.
Dari situ kepikiran kenapa kita nggak buat konsep resto yang menyajikan menu western dan menu tradisional.
Akhirnya kita jalan usaha dengan nama Londo Jowo, yang menyajikan menu londo (western) dan jowo (masakan tradisional)
Apa yang membuat anda tertarik dalam dunia kuliner?
Saya tertarik setelah saya menikah dengan suami, ada naluri untuk belajar memasak yang sangat luar biasa.
Padahal sebelum nikah sama sekali tidak tertarik di dunia memasak. Selain itu saya juga ingin mewarisi ilmu ibu saya dalam dunia masak.
Saya empat bersaudara, dan semuanya tidak ada yang suka masak. Makanya setelah menikah ada sebuah dorongan untuk selalu belajar memasak sama ibu dan ingin sekali membuat usaha di bidang kuliner mewarisi ilmu orang tua.
Apa kendalanya saat merintis usaha kuliner tersebut?
Kendala di awal banyak sekali, seperti biasa kalau ada cafe buka baru pasti orang berbondong-bondong ingin mencoba.
Dan di awal kita buka dengan konsep yang unik menjadi daya tarik tersendiri di luar perkiraan kami. Sehingga dengan karyawan terbatas dan ilmu manajemen resto yang minim seringkali kita terbentur pada kurang cepatnya dalam melayani dan dalam pengelolaan manajemen stok resto kami. Itu yang menjadi PR (pekerjaan rumah) kita di awal-awal kita membuka usaha kuliner.
Bagaimana solusi anda untuk mengatasi kendala itu?
Untuk mencari solusi memang tidak bisa langsung diselesaikan permasalahan-permasalahan yang ada.
Karena modal terbatas, kita tidak bisa menyewa jasa konsultan bisnis usaha resto. Akhirnya kami selalu berproses dengan mendengarkan kritik dan saran dari semua orang.
Semua akun sosmed, nomor pelayanan pelanggan selalu saya dan suami yang pegang. Jadi kita bisa tahu langsung kendala apa dan kekurangan dalam melayani.
Melihat semakin ketatnya persaingan bisnis kuliner, strategi seperti apa yang dilakukan untuk berkompetisi?
Prinsip kami dalam berusaha harus selalu berproses yang lebih baik. ada progress terus dari hari ke hari menjadi lebih baik dalam menyajikan menu maupun melayani tamu.
Untuk masalah rejeki dari usaha kami selalu kami serahkan kepada Tuhan yang mengaturnya.
Bagaimana rencana anda ke depannya untuk mengembangkan Londo Jowo?
Setelah 2 tahun berjalan memang kami punya rencana untuk membuka cabang baru. Rencana kalau tidak di tempat kelahiran saya di Semarang, ya di Klaten tempat kelahiran suami.
Harapannya mudah mencari karyawan yang kita sudah tahu dan kenal orang-orangnya. Setelah itu kita bahas planningnya, ada sebuah ketakutan tersendiri kalau kita kekurangn waktu untuk anak-anak kita.
Karena kita belum berani menyerahkan usaha ke tangan karyawan, kembali ke tujuan kita dulu keluar dari seorang karyawan kita mengambil jalur membuat usaha biar kita punya waktu banyak untuk anak-anak.
Akhirnya dari hasil diskusi banyak dengan suami kita putuskan untuk ekspansi usaha tetap di Londo Jowo dan tetap basecamp di Ungaran. Kita saat ini merambah dan mencoba usaha di bidang katering dan One Stop wedding entertainment.
Kita sudah mulai 2 bulan yang lalu bergerak untuk usaha katering wedding , selain itu kita juga menyediakan semua perlengkapan wedding seperti dekorasi, tenda-tenda dan kursi, sound system dan hiburan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/martha-fany-wibowo_20170807_091137.jpg)