Terpeleset Saat Cuci Kaki, Bocah di Klaten Hilang Terseret Arus Bengawan Solo
Malang nasib Reno Fauzi (12) warga Dukuh Kauman RT 02/ RW 09 Desa Bulakan Kecamatan Sukoharjo. Bocah itu hilang terseret Sungai Bengawan Solo di Dukuh
TRIBUNJATENG.COM, KLATEN - Malang nasib Reno Fauzi (12) warga Dukuh Kauman RT 02/ RW 09 Desa Bulakan Kecamatan Sukoharjo. Bocah itu hilang terseret Sungai Bengawan Solo di Dukuh Kwogo kulon Desa Sidowarno Kecamatan Wonosari, Selasa (22/8/2017).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, awalnya korban Reno Fauzi (12) bersama kelima temannya berpamitan hendak menonton Karnaval di Kabupaten Sukoharjo.
Lalu di tengah-tengah perjalanan, sekitar sekitar pukul 13.15 WIB korban bersama kelima temannya hendak mencuci kaki di Sungai Bengawan Solo.
Namun nahas bagi korban, saat mencuci kaki ia terseret arus dan jatuh ke dalam sungai sehingga membuat panik temannya.
Karena panik, teman-temannya berteriak hingga warga berdatangan untuk menolong korban namun tidak ditemukan.
Mendapati informasi tersebut Kapolsek Wonosari AKP I Wayan Nartha beserta Tim SAR Kabupaten Klaten dan SAR Kabupaten Sukoharjo langsung mendatangi tempat kejadian untuk melakukan pencarian korban yang terseret arus.
“Kami beserta seluruh anggota SAR berusaha semaksimal mungkin untuk mencari korban yang hilang pada saat itu juga” kata Kapolsek Wonosari.
Tim gabungan melakukan penyelaman dan penyisiran untuk mencari bocah yang menjadi korban hanyut di aliran sungai Bengawan Solo. Pencarian tersebut melibatkan 70 orang relawan.
Penyisiran dilakukan dari titik hanyutnya korban di dekat jembatan Desa Sidowarno, Kecamatan Wonosari.
Menurut Wakil Komandan Bidang Operasi SAR Klaten, Irwan Santosa dari titik tersebut tim melakukan penyelaman.
"Penyelaman dilakukan untuk mencari korban di dalam air. Selain itu, ada tim yang melakukan penyisan di permukaan dengan menggunakan pelampung," katanya, Rabu (23/8).
Ia menjelaskan kondisi aliran sungai yang surut dan kedalaman yang bervariasi, tidak memungkin tim melakukan pencarian dengan menggunakan perahu kayak. Sementara kondisi aliran menyempit lantaran surut saat musim kemarau.
"Kedalaman rata-rata 3 meter, ada yg lebih dangkal juga. Sehingga dari evaluasi tim, lebih memungkinkan untuk melakukan pencarian dengan cara disisir manual," ungkapnya.
Irwan menambahkan tim yang terdiri dari SAR Klaten dan Sukoharjo dibantu relawan dari berbagai komunitas rescuer di Solo Raya sudah memasang jaring untuk mengantisipasi korban hanyut lebih jauh. Pemasangan jaring dilakukan di bawah jembatan Sidoretno dan Pondok, Sukoharjo.
"Pemasangan jaring berjarak 300 meter hingga 3 kilometer dari titik hanyutnya korban," ujarnya.
Dugaan sementara, korban terseret arus deras yang ada di bawah permukaan air. Kondisi tersebut mengingat aliran Sungai Bengawan Solo masih memiliki arus deras meski sedang musim kemarau. (tribunjogja/ang/polres klaten)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bocah-terpeleset-saat-cuci-kaki-di-bengawan-solo_20170823_121854.jpg)