Sabtu, 16 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Hari Pahlawan

KISAH Ing Biauw Pejuang Keturunan Tionghoa Sadap Informasi Belanda

Ing Biauw, atau biasa dipanggil Soegeng Boedhiarto, Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI) keturunan Tionghoa asal Purwokerto prihatin

Tayang:
Penulis: khoirul muzaki | Editor: iswidodo
tribunjateng/khoirul muzaki
Soegeng Boedhiarto alias Ing Biauw, veteran pejuang kemerdekaan Republik Indonesia asal Purwokerto Banyumas. Mantan anggota Pos Rahasia dalam Kota Corp Polisi Militer Djawa (CPMD) yang bertugas sebagai penyadap intelijen. 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Ing Biauw, atau biasa dipanggil Soegeng Boedhiarto, Veteran Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI) keturunan Tionghoa asal Purwokerto mengaku prihatin dengan karut marut negeri akhir-akhir ini.

Sebagian masyarakat gagal memaknai perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Di saat para pahlawan berjuang menyatukan bangsa dalam bingkai negara kesatuan, sebagian generasi kini justru berupaya memecah belah.

Isu Sara kembali mencuat. Masalah pribumi-non pribumi jadi perdebatan yang tak kunjung tuntas.

Ayah kandung Bupati Banjarnegara Budhi Sarwono ini paling tidak suka dengan pengistilahan semacam itu.

Wajar, sebagai warga keturunan, ia merasa ikut andil dalam perjuangan memperebutkan kemerdekaan Indonesia.

Istilah itu tak dikenal dalam kamus para pejuang. Pembeda saat itu, bagi dia, bukan berdasar warna kulit atau etnik, melainkan patriot atau pengkhianat, pejuang atau pecundang.

Dan Soegeng memilih jadi barisan pejuang untuk menghapus penjajahan dari bumi pertiwi.

"Tidak ada pribumi-non pribumi, yang ada adalah bangsa Indonesia. Ada yang setia pada negara, ada yang mengkhianati bangsa sendiri untuk mendapat simpati Belanda. Saya paling antipati terhadap pengkhianat bangsa," kata Soegeng saat ditemui di kediamannya di Jalan Bank Purwokerto Banyumas, Jumat (10/11).

Bagi Soegeng, kemerdekaan Indonesia berhasil direngkuh dengan menjunjung keberagaman. Seluruh elemen rakyat dari Sabang sampai Merauke kala itu berhasil membuang ego primordial dan menyatukan diri untuk melawan penjajah.

Status kewarganegaraan Soegeng waktu itu bahkan masih menginduk orangtuanya, Tiongkok. Namun kecintaan Soegeng terhadap tanah kelahiran membuatnya rela mati untuk Indonesia.

Tahun 1948, di usianya yang ke 21 tahun, Soegeng bergabung dengan Polisi Keamanan Tentara Rakyat dengan pangkat Sersan, sebelum berganti nama menjadi Corps Polisi Militer Djawa (CPMD). Ia bertugas di Pos Rahasia (RHS) yang bermarkas di Kalibagor Banyumas.

"Komandan saya saat itu Sersan Mayor Agus Rusdan. Orang tua saya tidak tahu kalau saya masuk polisi tentara,"katanya

Tugas Soegeng strategis sekaligus berisiko karena harus menjalankan peran sebagai seorang intelijen. Ia harus memata-matai gerak gerik tentara Belanda yang bermarkas di sekitar alun-alun Purwokerto.

Soegeng wajib menyadap segala informasi dari pihak Belanda yang berkaitan dengan kepentingan bangsa Indonesia.

Di antara polisi tentara lainnya, Soegeng tentu paling potensial untuk menjalankan tugas itu. Belanda tidak akan menaruh curiga terhadap lelaki bermata sipit karena dianggap warga asing.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved