Inilah Pesan Natal Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Isinya Bikin Merinding
Presiden Palestina, Mahmoud Abbas memberikan pesan natal yang penuh arti
Penulis: Awaliyah P | Editor: Awaliyah P
TRIBUNJATENG.COM, PALESTINA - Suka cita natal masih dirasakan oleh orang-orang yang merayakan.
Tak terkecuali Presiden Palestina, Mahmoud Abbas juga memberikan pesan pada hari natal.
Dilansir dari nad.ps, berikut pesan natal yang disampaikan oleh Mahmoud Abbas.
Baca: Weleh-weleh! Oknum Polisi dan Polwan Tertangkap Basah Lagi Ngamar di Hotel
Hari ini di setiap tahun, jiwa miliaran orang berpaling ke Betlehem untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus, utusan cinta, kedamaian, dan keadilan.
Lebih dari 2000 tahun yang lalu, pesan Yesus disampaikan dari palungan sederhana di Betlehem.
Kami bangga bahwa tradisi berharga ini merupakan bagian integral Palestina dan bahwa orang-orang Palestina di seluruh dunia merasakan kebanggaan dan menjadi inspirasi untuk datang dari negara yang menunjukkan pesan, nabi, dan pengetahuan.
Natal ini menandai 50 tahun di bawah pendudukan Israel.
Pada Paskah berikutnya, orang-orang kita juga akan menandai 70 tahun sejak Nakba memprovokasi pengasingan kita.
Baik, pendudukan maupun pengasingan, merupakan realitas yang terus berlanjut bagi lebih dari 12 juta orang Palestina yang tinggal di seluruh dunia.
Banyak dari mereka adalah bagian dari komunitas Kristen tertua di seluruh dunia, namun mereka telah ditolak untuk hidup dan beribadah di Tanah Yesus Kristus hanya karena Israel menganggap semua orang Palestina sebagai "ancaman demografis".
Betlehem saat ini dikelilingi oleh 18 pemukiman kolonial ilegal yang sedang dalam ekspansi tanah Palestina.
Dinding Aneksasi (dinding pemisah), tembok memalukan dan apartheid, dibangun dari jantung kota dan meluas menuju Lembah Cremisan, yang mempengaruhi mata pencaharian ratusan keluarga Palestina, terutama orang-orang Kristen.
Betlehem, tempat kelahiran harapan, terus terpengaruh oleh rencana Israel untuk menciptakan "Yerusalem Raya" di atas penderitaan orang-orang Palestina.
Sayangnya, Pemerintah Amerika Serikat telah memutuskan, melawan kewajibannya berdasarkan Hukum Internasional, untuk memberi penghargaan atas kebijakan semacam itu dengan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/mahmoud-abbas_20171226_153402.jpg)