Anak Justru Merasa Nyaman dengan Trauma Bullying di Sekolah? Begini Cara Mengatasinya
Trauma yang paling membekas adalah trauma yang terjadi di masa kanak-kanak
Penulis: Puspita Dewi | Editor: muslimah
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Wilujeng Puspita Dewi.
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Trauma yang paling membekas adalah trauma yang terjadi di masa kanak-kanak. Seseorang selalu bisa mengingat kejadian masa kecil yang dirasa sangat menyakitkan baginya.
Tidak sekedar ingatan, pesakitan itu bisa menimbulkan trauma berkepanjangan.
Psikolog kota Semarang, Maharani Kusumaningrum M Psi menuturkan bahwa otak anak memiliki kemampuan yang sangat kuat untuk mengingat sebuah peristiwa, apalagi peristiwa yang menyakitkan.
"Karena dimasa anak-anak atau yang kerap disebut dengan golden age, memori seseorang lebih kuat menancap hingga masa dewasanya. Terlebih, anak-anak juga belum memiliki kapasitas dan daya yang cukup besar untuk melawan atau melakukan sesuatu terhadap hal-hal yang tidak diinginkannya, " tutur Maharani saat ditemui Tribunjateng.com, Rabu (27/12/2017).
Pada saat saat anak mendapat bullying, ejekan atau kekerasan, orangtua harus menjadi sosok yang bisa membantu si kecil untuk melawan hal-hal yang tidak diinginkan tersebut. Jika tidak, anak akan terjerumus pada sebuah trauma.
"Trauma ada dua. Trauma yang benar-benar tidak ingin dibahas dan trauma yang justru membuat nyaman seseorang. Trauma nyaman inilah yang dampaknya melebar," tuturnya.
Pernah ada sebuah kejadian bullying terhadap seorang anak di Kota Semarang. Akibatnya, anak takut untuk pergi ke Sekolah.
"Jika orang tua hanya memaklumi kondisi anaknya dan membolehkannya untuk tidak sekolah, hal tersebut akan menimbulkan masalah baru. Akibatnya, setiap hendak ulangan, anak akan memanfaatkan traumanya untuk bolos sekolah karena takut akan kembali diejek teman-temannya. Akhirnya, Trauma tersebut sering digunakan untuk meminta belas kasih orang lain, " tutur Maharani.
Lalu Bagaimana Cara Mencegah Anak Tidak Merasa Nyaman Pada Traumanya?
Maharani menuturkan, cara yang paling ampuh adalah mengajak anak untuk memaafkan masalahnya.
Berikut cara-cara yang diberikan Psikolog kelahiran 1988 tersebut, agar anak mau memaafkan sebuah pesakitan yang terjadi padanya.
1. Kenalkan anak pada dunia luar dan segala permasalahannya. Dengan begitu, anak akan sadar bahwa tidak hanya dirinya saja yang mempunyai masalah.
2. Ajak anak untuk membaca buku dan menulis.
"Dari praktek yang selama ini saya jalani, ternyata efek dari membaca buku-buku yang positif dan melakukan terapi menulis seperti menulis buku harian tentang apa yang dialami dan rasakan setiap harinya, berdampak sangat besar dan cepat terhadap penyembuhan dan perkembangan diri korban, "
3. Kenalkan anak pada lingkungan positif. Seperti pertemukan anak dengan komunitas yang memiliki hobi sama dengan si anak.
4. "Terakhir, selalu menjadi teman bicara yang baik dan menyenangkan bagi anak," tutur Maharani.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/maharani-kusumaningrum-m-psi_20171227_144731.jpg)