Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Meneguk Kehangatan Bajigur Pegadaian Comal Pemalang

Hampir semua penduduk Comal dan sekitarnya mengenal kedai ini sebagai warung "bajigur pegadaian".

Tayang:
Penulis: ponco wiyono | Editor: galih permadi
TRIBUN JATENG/PONCO WIYONO
Hampir semua penduduk Comal dan sekitarnya mengenal kedai ini sebagai warung "bajigur pegadaian". 

Aneka kudapan pelengkap seperti kue kering dan gorengan dihargai masing-masing Rp 500.

Kios Wedang Bajigur Manyir bermula pada tahun 1968 saat ayah Kusrini yang bernama Ruslani menjajal usaha baru setelah bertahun-tahun merantau ke Jawa Barat.

Kusrini mengisahkan, Ruslani yang sudah meninggal dunia delapan tahun silam saat di perantauan sempat belajar membuat bajigur dengan ramuan berupa gula pasir, vanili, daun pandan, santan, dan coklat.

Tidak dinyana, resep tersebut ampuh dan disukai banyak orang.‎ Ruslani pun menekuni usaha tersebut ditemani sang istri, Casmiah yang kini sedang menjalani kehidupan di usia senja.

Selepas generasi pertama mentas, pasangan Kusrini dan Fatoni (65) kemudian menjadi penerus usaha tersebut sampai saat ini.

"Kami tak pernah benar-benar pindah atau tutup. Hanya geser-geser sedikit, dan sejak tahun 1985 kami mapan di trotoar depan pegadaian ini," sambung Kusrini.

Selain Syaiful, ada serombongan lain yang datang menikmati bajigur malam itu. Mereka adalah keluarga Latifah (40), yang sejumlah enam orang dan sengaja datang dari Pekalongan.‎

Rombongan tersebut memesan beberapa gelas untuk diminum di tempat, serta beberapa botol untuk dibawa pulang.

Ada yang unik dari pelayanan bajigur Manyir ini, yakni pemesanan menggunakan plastik tidak dilayani.

Pembeli yang menginginkan minumannya dibawa pulang, harus membawa thermos sendiri atau menggunakan botol bekas sirup yang sudah disiapkan sang penjual.

Sebagian masyarakat setempat‎ mengira ada alasan berbau klenik dari pelarangan bungkus plastik di kedai itu, namun Kusrini menampiknya.

Menurut Kusrini, bungkus plastik akan membuat citarasa bajigurnya berkurang.

"Sebab saya pakai gula murni, bukan bibit. Juga tidak ada bahan kimia di bajigur saya, semua alami dan turun temurun dari ayah," tegas Kusrini yang beralamat di Kelurahan Purwoharjo ini.

Pengunjung dari arah Jakarta atau Semarang bisa mendapati kios ini, dengan mengambil arah Watukumpul dari pertigaan Blandong sekitar satu kilometer ke arah selatan.

Kemudian di pertigaan pos polisi Pasar Comal, belok ke kanan sekitar 300 meter. Kios Wedang Bajigur Manyir berada di sisi kiri jalan, dan buka sejak pukul 16.00 hingga pukul 24.00.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved