FOCUS
Mental Coach Carter
Mental Coach Carter. im basket SMA Richmond bukanlah tim unggulan. Dalam satu musim turnamen, tim tersebut hanya merasakan empat kali kemenangan.
Penulis: galih permadi | Editor: iswidodo
Tajuk ditulis oleh Galih Permadi, Wartawan Tribun Jateng
TRIBUNJATENG.COM - Tim basket SMA Richmond bukanlah tim unggulan. Dalam satu musim turnamen, tim tersebut hanya merasakan empat kali kemenangan.
Tim SMA di negara bagian Virginia Amerika Serikat itu diisi para siswa yang memiliki nilai akademik buruk dan sering membolos pada saat jam pelajaran. Hingga datang sosok pelatih anyar, Ken Carter yang ditunjuk mengubah keadaan.
Coach Carter, sapaannya, mendidik disiplin pemain di dalam dan luar lapangan. Ia menyodorkan sebuah perjanjian yang harus disetujui seluruh pemain.
Isinya para pemain harus mendapatkan nilai rata-rata minimal 2.3, tidak boleh membolos di setiap jam pelajaran, duduk paling depan, dan menggunakan jas serta dasi di hari pertandingan. Jika menolak, Coach Carter mempersilakan siswa keluar dari tim.
Perjanjian dibuat bukan tanpa alasan. SMA Richmond hanya mampu meluluskan 50% muridnya setiap tahun dan hanya 7% yang melanjutkan ke universitas. Coach Carter ingin mendisiplinkan para pemain. Mencetak pemain bermental juara di lapangan juga akademik.
Ia tak ingin setelah lulus dari SMA, pemainnya menjadi penghuni penjara. “Tumbuh di Richmond, kau bisa 80% masuk penjara daripada masuk universitas,” kata Carter kepada anak asuhnya.
Coach Carter melatih keras para pemainnya. Ia tak segan memberi sanksi jika ada pemain datang terlambat latihan dan tidak menaati perjanjian. Singkat cerita, tim SMA Richmond menjadi tim kuat hingga 17 pertandingan tak terkalahkan. Enam pemain dapat beasiswa penuh di sejumlah universitas.
Cerita di atas merupakan kisah nyata. Kemudian pada 2005 dituangkan dalam sebuah film berjudul “Coach Carter” yang dibintangi Samuel L Jackson. Kisah Coach Carter mengajarkan bahwa membentuk mental juara bisa dilakukan tanpa harus menggunakan kekerasan fisik.
Banyak kegiatan sekolah di Indonesia berkedok pembentukan mental namun di dalamnya terdapat kekerasan fisik hingga bullying. Kasus terbaru yakni Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang menyebabkan dua murid SMAN 1 Semarang dikeluarkan lantaran diduga melakukan bullying dan kekerasan ke juniornya.
LDK atau kegiatan apapun namanya dengan kekerasan dan bullying, bukan membentuk mental pemimpin, namun malah meninggalkan rasa sakit hati. Mereka akan kembali melakukan hal serupa kepada junior-junior. Mata rantai kekerasan berkedok kegiatan pembentukan mental itu tak kan putus.
Coach Carter sempat marah saat timnya melakoni pertandingan ke-6. Timo Cruz Cs sombong dan melecehkan lawan tandingnya. Pemain beralasan tim lawan telah melakukan hal sama saat mereka menjadi tim lemah musim lalu.
“Apa yang membuat kalian berhak melecehkan permainan yang ku cintai dengan perkataan kotor dan pelecehan? Apa kalian tidak bisa menunjukkan yang lebih baik dan bersikap seperti juara?,” nasehat Coach Carter kepada tim.
Mengutip apa yang dikatakan psikolog asal Amerika Serikat, Abraham H Maslow: “Jika satu-satunya alat yang Anda miliki hanyalah palu, Anda cenderung akan melihat setiap permasalahan sebagai paku.”
Belum tentu tradisi turun temurun itu, yang selama ini dianggap baik, mampu membentuk generasi bermental baik pula. Sudah seharusnya pihak sekolah mengevaluasi bahkan membredel kegiatan di luar belajar mengajar yang tak mendidik, penuh kekerasan, dan bullying.
Jangan sampai sekolah - identik dengan lingkungan orang terpelajar- malah menciptakan generasi sakit hati dan pendendam. (tribunjateng/cetak/gpe)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/tajuk-ditulis-oleh-galih-permadi-wartawan-tribun-jateng_20180309_075110.jpg)