Di Tokyo, Gus Hayid Menegaskan Bahwa Ilmu Tasawuf Bukan Ilmu Sesat
Yang perlu saya tegaskan terlebih dahulu bahwa tasawuf bukanlah ilmu sesat dan bid'ah yang dholalah
TRIBUNJATENG.COM, TOKYO - Banyaknya gempuran terhadap ilmu tasawuf dan praktik sufistik sebagai ilmu sesat dan bid'ah yang tak ada dasarnya dalam Alquran dan hadits membuat para mahasiswa di Jepang gelisah.
Para putra terbaik bangsa yang sedang melanjutkan studinya di program master dan doktor di institute of technologi Tokyo (ITT) mengundang KH Muhammad Nur Hayid atau Gus Hayid untuk menjelaskan bagaimana posisi tasawuf dalam Islam.
"Yang perlu saya tegaskan terlebih dahulu bahwa tasawuf bukanlah ilmu sesat dan bid'ah yang dholalah," ujar Gus Hayid.
Tasawuf dan sufism, menurutnya, adalah praktik keagamaan yang berdasar pada Alquran dan meneladani akhlak dan perilaku Rasulullah SAW dalam sunnah-sunnahnya.
Gus Hayid mengungkapkan hal itu dalam acara Diskusi Midori di Kampus ITT Yakohama, Jepang, Jumat (9/3/2018).
Hadir dalam acara bergengsi ini Ketua PCINU Jepang Miftakhul Huda dan Ketua PCIMU Jepang.
Serta para mahasiswa muslim yang tergabung dalam Modori yang terdiri dari para mahasiswa dari berbagai jurusan dan alumni kampus besar di Indonesia seperti ITB, ITS, Unair, UGM, UI dan lain-lain.
Dalam penjelasannya, Gus Hayid juga mengurai sejarah tasawuf dan praktik sufustik sejak zaman Rasulullah, para sahabat hingga generasi pertama tabiin seperti Hasan al Basri, Ibrahim bin A'dham dan Rabiatul Adawiyyah.
Gus Hayid juga menjelaskan perkembangannya hingga abad ke 5 hijriyah zaman kodifikasi tasawuf sebagai disiplin ilmu oleh Imam Ghozali yang salah satu kajiannya tertuang dalam kitab Ihya Ulumiddin.
"Jadi meskipun terminologi tasawuf dan sufi belum ada di zaman nabi dan sahabat, tapi praktik tasawuf dan perilaku sufistik itu sudah ada sejak zaman Rasulullah. Siapa yang mencontohkan? Ya Rasulullah sendiri, dan diikuti Abu Bakar Assidiq, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman dan Sahyidina ALi serta para sahabat senior lainnya," kata dia.
"Mereka lebih mementingkan urusan akhirat ketimbang urusan dunia, meskipun mereka tetap tak meninggalkan kewajiban urusan dunianya. Itulah praktif sufistik sejati yang dikemudian hari oleh para ahli disebut sebagai kajian dan disiplin ilmu tasawuf," tegas pengurus MUI pusat ini.
Oleh karena itu, lanjut mantan sekretaris dubes RI di Aljazair ini, kalau ada yang mengharamkan dan membid'ahkan tasawuf sebagai perilaku yang sesat, maka bisa dipastikan orang itu tidak paham sejarah tasawuf dan praktik tasawuf yang ternyata bersumber dari Alquran dan sunnahnya Rasulullah.
"Mereka harus membaca lagi dan belajar lagi serta membersihkan hatinya dari perilaku merasa benar sendiri alias sombong," ungkapnya lagi.
Saat ditanya soal bagaimana praktik sufism di era modern, Gus Hayid menyarankan semua peserta diskusi untuk mempraktikkan perasaan selalu bersama Allah dalam setiap saat dan waktu.
Dengan merasa selalu diawasi dan bersama Allah maka seseorang akan merasa menjadi lebih berhati-hati dari berbuat kerusakan dan sesuatu yang merugikan orang lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/gus-hayid-kiri-dengan-jaket-kuning-muda-bersama-warga-indonesia-di-jepang_20180311_104830.jpg)