WOW! Driver Grab 'Tuyul' Punya 213 Handphone Untuk Kelabui Operator
Delapan orang tersebut telah melakukan order fiktif (opik) atau dikenal dengan istilah aplikasi "tuyul".
Penulis: hesty imaniar | Editor: galih permadi
Dan dari hasil sementara diketahui, hacker Tomy sebelum beraksi di Semarang lebih dulu beraksi di Yogyakarta. Praktik yang dilakukan oleh Tomy diperoleh secara otodidak.
"Saat ini kami masih terus mengembangkan kasus ini. Karena disini dimungkinkan masih banyak pihak yang melakukan praktik serupa, terutama driver. Selain itu, dari pengakuan tersangka hacker ini belajar secara otodidak untuk menerobos sistem Grab. Jika ditanya kerugian, pihak Grab mengaku jika dari kejahatan illegal acces tersebut mencapai Rp 6 miliar, selama 6 bulan di wilayah Jawa Tengah saja," jelas Teddy.
Sementara itu, Tomy, mengakui bahwa, dirinya menjadi hacker baru selama satu bulan. Romy mengungkap untuk biaya fake GPS sekitar Rp 1,2 juta.
"Jika hanya aplikasi sekitar Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu. Meski dipelajari secara otodidak, praktik menerobos sistem Grab tersebut karena disuruh teman saya. Dan mayoritas driver pakai fake GPS untuk mengakali banyaknya driver, biasanya untuk menghindari kemacetan, selain itu ilegal access ini biasanya yang paling mudah digunakan jika memakai android yang lollipop," ungkapnya.
Disisi lain, Region Head Central Java & Special Region of Yogyakarta Grab Indonesia, Ronald Sipahutar menambahkan, bahwa, dirinya memberi apresiasi tindakan yang dilakukan oleh Polda Jateng dan Polres Pemalang.
"Pengungkapan terkait kasus kecurangan sistem yang dilakukan driver mitra Grab sebelumnya ini, sudah dilakukan di sejumlah daerah. Namun terkait hacker (pengoprek atau peretas) sekaligus penyedia aplikasi untuk ilegal access ini merupakan yang pertama kalinya di Indonesia. Jelas secara kasus ini adalah yang kelima setelah sebelumnya diungkap di Makassar, Surabaya, Jakarta, dan Medan. Untuk Polda Jateng ini adalah kasus pertama kali di Indonesia di mana polisi berhasil menangkap sampai pelaku pengoprekan," katanya.
Bahkan, dari kasus ini, Ronald menepis anggapan bahwa sistem yang dimiliki oleh Grab lemah dan rentan diretas. Dimana, kemampuan software dan teknologi Grab sendiri didukung dengan 6 research development di Asia, salah satunya berada di Jakarta.
"Secara sistem kita mampu untuk mendeteksi apakah ada kecurangan. Oleh karena itu kami mampu membawa kasus ini ke ranah hukum untuk diproses. Ini yang kami kolaborasikan dengan pihak kepolisian untuk mengungkap dan memproses tindak pidana ini," pungkasnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/petugas-kepolisian-berhasil-ungkap-hacker-dan-driver-grab-pengguna-aplikasi-tuyul-dan-orderan-fiktif_20180319_210257.jpg)