Liputan Khusus
EKSKLUSIF! Pengakuan Begal Lintas Provinsi, Tampil Necis saat Beraksi dan Kriteria Korbannya
Sehingga, sebisa mungkin ia menjalankan aksi secara rapih tanpa perlu melakukan tindakan yang akan memperlama masa hukuman.
Meski bekerja kriminal, Boby mengaku sangat memperhatikan betul dampak dari tindakannya, khususnya dari segi hukum. Sehingga, sebisa mungkin ia menjalankan aksi secara rapih tanpa perlu melakukan tindakan yang akan memperlama masa hukuman.
"Sejauh ini saya belum pernah tertangkap petugas. Bunuh orang juga tidak pernah, tapi kalau bacok pernah, itupun terpaksa karena ketika membegal korban melawan," ujarnya.
Menurut dia, sekarang ini semakin banyak orang yang bekerja seperti dirinya. Bahkan, ada perkampungan di Semarang yang remajanya banyak menjadi pembobol rumah maupun begal.
Menjadi begal baru ditekuninya setahun terakhir. Korban pertamanya dulu merupakan laki-laki pengguna sepeda motor. Caranya, kendaraan korban dipepet, lalu ia turun dan menodongkan pedang.
Sama seperti membobol rumah, aksi pembegalan sering dilakukan Boby di wilayah Semarang bagian timur. Dari hasil pertamanya itu, ia mendapatkan handphone dan sepeda motor korban yang laku dijual seharga Rp 1,5 juta.
Sama halnya dengan begal, aksi jambret dilakukan lebih singkat. Ia biasa mengincar orang yang bermain handphone.
Setelah dirampas, Boby lalu pergi seketika membonceng seorang rekannya menggunakan sepeda motor.
Boby tahu betul pekerjaan itu berisiko terhadap nyawanya. Tetapi, hal itu terpaksa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan.
Sejauh ini, keluarga dan saudara tidak pernah tahu pekerjaan yang dilakukannya.
Jika aksi pembobolan maupun kriminalitas mencuat ramai di Kota Semarang, ia terpaksa pindah ke kota lain atau sementara berhenti bekerja.
Sebagai gantinya, Boby bekerja sebagai buruh bangunan. "Jadi buruh bangunan sebagai sampingan," tukasnya.
Spontan
Adapun, pelaku kejahatan jalanan biasanya bersifat spontan. Mereka tidak memantau calon korban dalam waktu yang lama. Sekali melihat ada peluang langsung eksekusi.
Hal itu menjadi prinsip Amir Sarifudin (39), seorang pelaku kejahatan jalanan yang kini mendekam di tahanan Polrestabes Semarang. Pria asal Lampung itu masih terlihat pincang saat berjalan.
Maklum saja, dua minggu lalu timah panas menghujam kaki kirinya saat diringkus polisi di sebuah hotel di Bandungan, Kabupaten Semarang.